Recent Posts

SI MBAH

Cerpen Karya Khifayatul Akhyar

Perawakannya kecil. Ia selalu berpakaian kebaya dengan ciput berwarna cokelat. Ia seorang perempuan tua yang patut dikasihani. Tak ada seorang pun yang tahu siapa ia dan darimana ia asalnya. Yang jelas ia selalu dipanggil dengan sebutan si Mbah.

Si Mbah telah lama menetap di Bandung. Hampir tiga puluh tahun lamanya ia berada disini bersama kelima anaknya. Ia haruslah menghidupi anak-anaknya dengan berjualan di sebuah jalan di kota Bandung. Sedangkan, suaminya tinggal bersama isteri mudanya. Si Mbah tak pernah dicerai oleh suaminya. Si Mbah selalu pasrah dengan hidup yang ia lakoni itu bahkan ia selalu berkata,”Ah… nggak apa-apa atuh,neng. Mbah mah ridho bae.” Dengan bahasa sunda si Mbah ngomong, walaupun logat jawanya masih terasa kental.
 
Terkadang aku merasa kesal kalau si Mbah menjawab seperti itu. Aku merasa sedih apabila si Mbah terlalu pasrah dengan hidupnya. Si Mbah tak pernah mengeluh kepada siapapun akan hidupnya itu. Aku sungguh salut dengan pribadi si Mbah diusianya yang tua itu ia selalu tegar,sabar, dan ikhlas dalam melakoni hidupnya itu. Sungguh aku malu sekali dengan si Mbah karena diusianya yang muda aku selalu merepotkan orang tua ku tanpa memikirkan betapa susahnya mencari pundi-pundi rupiah.
***

Namun, akhir-akhir ini aku tak pernah bertemu dengan si Mbah. Entah kemana orang tua itu. Terakhir kali aku bertemu dengan si Mbah ketika ia dtang ke rumah dan bertemu dengan keluargaku.
“ Neng Ella,Mbah mau pamit. Mbah mau pergi ke Jakarta. Mbah dijemput sama anak si Mbah yang ada disana. Mbha minta maaf kalau salami ini Mbah banyak salah ya neng.” Suasana pun berubah menjadi hening. Aku tak bisa memendam rasa sedih ini saat sang inspiratif hidupku harus pergi jauh dari diriku. Tak ada lagi orang yang selalu mengingatkanku akan pentingnya arti sebuah keikhlasan. Tak ada lagi seorang yang selalu mengajarkan ku arti sebuah ketabahan. Tetapi aku harus merelakan si Mbah tuk hidup sejahtera bersama anaknya.

Si Mbah pergi meneteskan air mata. Inilah kali pertamanya aku melihat linangan air mata si Mbah. Ia adalah orang yang baik hati meskipun kamu bukan siapa-siapanya. Namun, tak disangka sangka kalau perpisahan itu adalah awal perjalanan si Mbah menjadi seorang gelandangan.
Terik matahari seakan-akan mau membakar seluruh tubuh. Panas, lapar, dan haus melebur menjadi satu. Ditambah dengan macetnya kota Bandung, sehingga sempurnalah sudah penderitaan ku saat itu.
“ Aduh… bagaimana sih. Kok tiap hari macet dan macet. Apa mobilnya harus dikurangi atau jalannya yang mesti diperlebar ?” omel seorang gadis kepada temannya sambil marah-marah.
Sepertinya ia tak sadar kalau ia berada di mangkot dan penumpang yang lainnya melihat kepadanya.
“hai,Neng. Jangan ngomong sepertyi itu. Keadaan ini sudah biasa. Memang beginilah keadaan Bandung semrawut nggak karuan.” Dengan logat batak yang cukup kental sopir angkot menjawab omelan gadis itu.

Inilah kondisi Bandung yang selalu dihinggapi dengan kemacetan. Hamper dua jam aku terjebak macet. Biasanya aku sampai ke rumah hanya satu jam saja.
Aku melihat keluar jendela untuk sekedar menghilangkan rasa lapar dan haus yang mendera diriku. Tanpa sengaja aku melihat seorang perempuan tua berpakaian kebaya dan ciput cokelat melintas di seberang jalan, persis di hadapanku.
“Ya Allah… itu kan Si Mbah,”bisikku dalam hati.
“ Bukankah ia bersama anaknya di Jakarta ,” tanyaku terus menerus menggeliat dalam hati. Rasa penasaranku menghimpit di pikiranku.
Tanpa menunggu lam lagi aku keluar dari angkot. Dengan sigapnya aku mengejar si Mbah. Temanku dan beberapa penumpang yang lainnya keheranan melihat kejadian yang aku lakukan. Bahkan panggilan temanku tak aku hiraukan. Akupun terus berlari menghampiri si Mbah.
“Mbah…Mbah…!”teriakku.

Si Mbah pun menoleh kearah ku. Ia kaget dengan kehadiranku disana .
“Aduuh!Dikira si Mbah siapa ?” jawabnya pebuh keheranan.
Namun, si Mbah terlihat kalem menjawab pertanyaan dariku. Memang itulah kebiasaan si Mbah kalu ngomong ia selalu kalem dan masi terdengar logat jawanya meski ia telah menetap di Bandung sudahtiga puluh tahun lamanya.
“Lho, kok ada disini ? bukannya si Mbah ada di Jakarta bersama anak si Mbah ?” tanyaku penuh keheranan dan penasaran.
Sungguh aku terkejut melihat pakaian si Mbah yang kotor, dekil, dan kumal. Bahkan aku hampir tak mengenali wajahnya dengan keadaannya yang seperti itu.
“Mbah, kok pakaiannya seperti itu?” pertanyaanku terus bertubu tubi karena rasa penasaranku.
Si Mbah hanya terdiam saat aku bertanya seperti itu. Aku semakin heran dan penasaran kepada si Mbah. Seperti ada hal yang menjanggal dengan dirinya tapi entah apa.
“Mbah,Mbah ?” tanyaku sambil menggoyahkan tubuhnya dan terhempaslah lamunannya itu.
Si Mbah kaget ketika tanganku menggoncangkan tubuhnya tang renta itu.
“Si Mbah pergi karena diusir sama anak si Mbah.” Ia bercerita dengan mata yang berkaca-kaca.
“Diusir?” Bukannya si Mbah mau di jemput ke Jakarta sama anaka mbah disana ?”
Aku sungguh terheran-heran dengan perkataan si Mbah. Dan akupun tak bisa memendung rasa pilu ini. Air mataku pun keluar membasahi pipiku.
“Iya. Memang tadinya si Mbah mau di jemput ke Jakarta. Namun, nggak tahu kenapa si Mbah tak pernah dijemput-jemput,Neng.” Si Mbah menjawab pertanyaanku dan pecahlah tangisnya.
“Terus kenapa diusir?” aku terus bertanya Tanya meski tidak tega melihat tangisan si Mbah.

Terlihat orang-orang yang melintas diujaln memandang kearah kami berdua. Perasaan penuh keheranan pun terlukis di wajah mereka. Akan tetapi, aku tak peduli dengan mereka semua. Aku terus berbicara. Awalnya si Mbah tak mau berbicara mengapa dirinya di usir oleh anak kandung nya sendiri.
“Iya , si Mbah diusir anak Mbah karena nggak dijemput jemput sama anak Mbah yang ada di Jakarta. Katanya si Mbah selau ngerepotin.”jawabnya.

Terlihat dari kedua matanya yang memerah karena menagis dan terlihat jelas luka batin dihatinya.
Aku sangat terkejut dengan semua perkataan si Mbah. Kenapa ada anak yang mengusir ibu kandungnya sendiri padahal ia yang telah melahirkan dan membesarkannya. Aku putuskan untuk mengajak si Mbh tinggal bersama keluargaku. Awalnya si Mbah menolak tawaranku dan memilih hidup menjadi gelandangan. Namun, akhirnya aku meyakinkan si Mbah untuk tinggal bersama keluargaku.
***

Senja memerah. Langit sajikan semburat jingga yang berkobar di batas horizon. Sesaat lagi malam akan menebarkan keremangan yang membaur bersama dengan napas kesunyian. Angin malam pun mulai berbondong bondong menjalankan tugasnya menyelimuti semua jeratan hari.
Si Mbah pun berselonjor diatas bangku bamboo di depan rumahku. Akupun menghampiri si Mbah dengan membawa minuma kesukaan nya yaitu wedang jahe. Disanalah terjadi percakapan antara si Mbah dengan orang tuaku. Si Mbah pun memutuskan untuk pergi dari rumahku.
“Mbah,Mbahmau kemana malam-malam begini?” tanyaku kepadanya.
“Si Mbah mau pergi !” jawabnya sambil berlalu di hadapanku.
“Tapi si Mbah mau pergi kemana ?” tanyaku.

Si Mbah hanya tersenyum dan melambaikan tangannya sambil berucap “ si Mbah mau pergi,si Mbah mau pergi, si Mbah mau pergi jauh.”
Perkataan itu terus diulang-ulang oleg si Mbah. Terdengar sayup suara tangis si Mbah. Ia berlalu dengan luka yang menyayat. Si Mbah terus berjalan meninggalkan rumahku. Dengan pikiran yang kacau,si Mbah berlalu dari hadapanku dan terlihat melintas kearah seberang jalan. Aku hanya terpaku dan terpana diantara ruas-ruas jalan.

Tiba-tiba terdengar suara keras membuyarkan lamunanku.
Bruuukkkk…..!!!
Seorang perempuan tua berkebaya dan berciput cokelat terhempas di terjang sebuah mobil berwarna hitam. Darah kental mengalir melewati ruas ruas jalan yang terpadati oleh kumpulan orang-orang yang memadati jalan tersebut.
Semua orang orang yang berada diantara ruas-ruas jalan tersebut mengerumuni tubuh Si Mbah. Terlihat mereka memalingkan wajah setelah melihat keadaannya. Entah mereka takut atau jijik melihat keadaannya.

Akupun berlari menuju kerumunan orang-orang. Kulihat sesosok mayat yang kukenali tergeletak sangat menyedihkan terbujur kaku dengan darah kental yang terus mengalir.
Tiba-tiba mataku mulai meredup. Penglihatan ku gelap. Aku tak sadarkan diri. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Siapa yang membawa ke rumahku pun aku tak tahu. Aku telah berada diantara kerumunan keluargaku.
“jangan khawatir. Akmu sudah berada di rumah.” Ibu berkata sambil mengelus-ngelus kepadaku.
Aku pun hanya mengangguk dan terdiam. Kepalaku pusing dan pikiranku sangat kacau. Aku ingin sekali bicara. Namun, lidahku terasa kel;u untuk mengungkapkan semuanya.
“Si Mbah gimana,Bu?” aku berusaha bicara karena penasaran dengan keadaan si Mbah.
Ibu hanya diam ketika ku lontarkan pertanyaan itu. Semua oang yang berada di sekelilingku pun diam tak bergeming. Suasana hening menambah kepedihanku. Lambat laun tetesan air mata membasahi pipiku dan pecahlah tangisku. Selamat jalan Mbah ku akan selalu ingat akan petuah yang engkau berikan kepadaku. Do’a ku menyertaimu sepanjang waktu

Belum ada Komentar untuk "SI MBAH"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel