RAHASIA CINTA TUHAN PART. II
Cerpen Karya Yuva Mega Pratiwi
Aku menangis di tengah guyuran hujan. Kenapa Rama mempunyai perasaan kepadanya. Padahal janji kita adalah benteng untuk mencegah rasa itu hadir dan benteng tersebut tak berarti apa-apa untuk Rama . Sambil berjalan menahan sakit , aku memutuskan berteduh di bawah pohon besar . Tiba-tiba handphoneku berdering .
“Untung ngga basah ..” batinku bersyukur.
“Haloo ..” sapaku sedikit memperbesar volume suaraku.
“Halo Metta .. Aku Riko.” Ucap suara di seberang sana.
“Riko ? Akhirnya kamu hubungi aku juga ya. Gimana kabar kamu sayang ?” tanyaku senang.
“Baik kok. Met , kita putus ya ..” jawabnya dan mengejutkanku.
“Apa ? Kenapa Rik ?” tanyaku kaget.
“Ada alasan yang ngga bisa aku kasih tau sama kamu , maafin aku ya.” Jawabnya dan mematikan percakapan itu .
“Untung ngga basah ..” batinku bersyukur.
“Haloo ..” sapaku sedikit memperbesar volume suaraku.
“Halo Metta .. Aku Riko.” Ucap suara di seberang sana.
“Riko ? Akhirnya kamu hubungi aku juga ya. Gimana kabar kamu sayang ?” tanyaku senang.
“Baik kok. Met , kita putus ya ..” jawabnya dan mengejutkanku.
“Apa ? Kenapa Rik ?” tanyaku kaget.
“Ada alasan yang ngga bisa aku kasih tau sama kamu , maafin aku ya.” Jawabnya dan mematikan percakapan itu .
Aku mencoba menghubunginya namun handphonenya ngga aktif . Airmata ini seakan semakin deras membasahi pipiku . Aku berjalan lagi dengan hati rapuh. Bener-bener rapuh.
“Riko , kamu jahat sama aku. Kenapa kamu tega mutusin aku kayak gini ? kenapa kamu tega sama aku . padahal kamu ngga pernah ngasih kabar apapun sama aku , kamu ngga pernah hubungi aku lagi dan akhirnya kamu mutusin aku kayak gini.” ucapku terluka .
Sambil berjalan aku mengingat lagi kenanganku bersamanya . Saat dia pertama kali jatuh cinta sama aku , saat masa PDKT kita , saat dia nembak aku dan akhirnya pacaran . Semua bagai memori yang mau tidak mau harus di delete dari otakku. :’(
*****
“Brian , kamu ngga ngejar Metta?” tanya Lucki pada Brian.
“Aku takut ntar dia makin marah sama aku. “ jawab Brian murung.
“Apapun itu , yang penting kamu usaha. Ayo cepet kejar…” sahut Rey menimpali.
“Kesempatan akan kita dapatkan kalau kita mau menciptakan kesempatan itu. Kapan lagi coba ..” ucap Chiko tersenyum.
Dengan percaya diri , Brian segera berlari menyusulku ..
Setelah dia melihatku yang berjalan dengan langkah tak menentu , dia mempercepat langkahnya.
“Metta …” teriak Brian padaku.
Aku tak memperdulikan teriak Brian.
“Met .. maafin aku ya gara-gara ……..” ucap Brian terkejut melihatku menangis.
“Kenapa kamu ?” tanya Brian lagi.
Dengan sigap , aku memeluknya. Aku menangis dipelukannya. Airmata ini mengalir di bajunya bersama tetesan air hujan .
“Metta , kamu kenapa ?” tanya Brian khawatir.
Aku ngga bisa berbicara sepatah kata pun . Melihat hal ini , Brian menggendongku dan mempercepat langkahnya mencari tempat untuk berteduh.
“Met , kamu kenapa ? cerita ke aku ?” tanya Brian menurunkanku di gubuk tempat Rama dan aku berbicara tadi.
“Aku .. aku putus ..” jawabku singkat. Kembali airmata ini mengalir lagi dan kali ini semakin deras.
“Kok bisa ?” tanyanya heran.
Tanpa sadar aku bercerita semua kepada Brian. Pacarku adalah Riko . Dia seumuran denganku dan kebetulan dia temanku juga di SMA. Aku dan dia sudah pacaran selama hampir lima bulan. Banyak hal yang kita lalui bersama , namun akhir-akhir ini dia berbeda. Untuk menghubungiku saja rasanya enggan apalagi bertemu denganku. Banyak waktu yang aku gunakan untuk menunggunya hingga aku memutuskan berlibur ke rumah tanteku . Aku berusaha membuang pikiran negatifku tentangnya dan menghibur diri disini. Tapi , DIA MEMUTUSKAN HUBUNGAN KITA SECARA SEPIHAK DAN TIBA-TIBA ! Dia tak pernah mengerti bagaimana perasaanku , dia tak pernah tau bagaimana sakitnya hatiku saat aku menunggu di antara ketidakpastian. Dia yang berjanji memberikanku kebahagiaan namun akhirnya memberikanku sejuta kesedihan. Dia yang berjanji untuk membuatku tak menangis lagi namun akhirnya dia membuatku menangis , menangis dan menangis .
“Apa salahku Brian ? Aku memang ngga sempurna. Banyak cewek di luar sana yang lebih dari aku , tapi MANA ADA SIH CEWEK YANG MAU DITINDAS ! Mana ada Brian?” ucapku sedikit emosi.
“Kamu tenang ya Metta.. kamu harus sabar . Kamu harus percaya kalau Tuhan itu pasti akan memberikan kamu yang terbaik , lebih dari dirinya dan kamu harus percaya dengan hukum karma. Tuhan itu adil Metta . Kamu harus kuat . Kamu tau , dulu dan sekarang kamu menangis kayak gini , tapi kamu harus yakin kalau suatu saat tetesan airmata yang udah kamu keluarin itu akan berubah menjadi satu kebahagiaan yang abadi. Kamu harus yakin itu , Tuhan sedang menyiapkan malaikat cintanya untuk kamu. Tenang ya ..” hibur Brian peduli.
Tak tau kenapa , kata-kata itu membuatku sedikit tenang dan merasa nyaman.
“Aku salah apa sih sampai dia kayak gini ke aku ? Padahal aku udah sayang banget sama dia.” ucapku lirih.
Dalam hatiku ada kamu ..
Namun dihatimu adakah aku
Tolonglah katakan sayang
Karena kurasa kini kau berubah
Walau dirimu masih milikku
Namun diragu akan cintamu
Kumohon katakan sayang
Karena kutakut kehilangan cintamu (jujur saja- wonderboys)
“Metta , kita pulang ya . Jangan nangis lagi dong , ntar jelek lho ..” hibur Brian lagi.
“Emang aku udah jelek kok ,” ucapku sedikit terhibur.
“Ya tambah jelek deh. Lihat tuh , mata udah bengkak ditambah hidung kamu merah kayak gitu , kayak badut tau ngga ..” ejek Brian tertawa sambil menghapus airmataku.
Mau tak mau aku tertawa bersamanya .
“Brian , makasih ya kamu udah buat aku terhibur kayak gini .” ucapku tersenyum.
“Iya nona biru , aku berusaha untuk itu .” sahut Brian tersenyum juga.
“Dasar nyebelin kamu ..” ucapku memukul lengannya.
“Aww , habis ditonjok Rama eh sekarang dipukul kamu. Sakit tau..” godanya padaku.
Aku hanya bisa tertawa . Tiba-tiba ada seseorang yang memeluk Brian dari belakang…..
“Kak Brian . Pulang ya kak ,” ucapnya pada Brian.
Aku terkejut , ternyata yang memeluk Brian adalah seorang gadis seusia Desti.
“Bella ..” ucap Brian kemudian. Seketika itu Brian langsung memeluk gadis itu. Mendadak suasana menjadi haru.
“Kamu sama siapa Bel ?” tanya Brian menghapus airmata gadis yang bernama Bella itu seperti dia menghapus airmataku tadi.
Bella tak menjawab tapi jari telunjuknya menunjuk pada seorang bapak dan ibu yang berdiri mengawasi tingkah mereka berdua sambil tersenyum . Lalu mereka mendekati Brian.
“Mama .. Papa ..” ucap Brian senang.
“Pulang ya nak . Mama udah kangen sama kamu,” sahut mama Brian menangis.
Brian hanya mengangguk.
“Eh ma , pa .. kenalin ini Metta.” Ucap Brian memperkenalkanku.
“Hai om , tante ..” sahutku ramah.
“Pacar baru kakak ya ?” tanya Bella , adik Brian.
“Maunya sih gitu , tapi masih belum Bel ,” jawab Brian mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku hanya bisa terdiam.
“Kak Metta , mau ya jadi pacarnya kakak. Pasti ngga nyesel deh . Kak Brian baik lho , dia terakhir pacaran waktu kelas satu SMA .” celoteh Bella padaku.
Aku hanya berusaha tertawa mengimbangi suasana yang ada.
*****
Ternyata kau sudah tak lagi mencintaiku
Dan kau ingin akhiri
Semua sampai disini
Maafkan jika selama ini
Aku tak bisa
Bahagiakan dirimu .. bahagiakan dirimu (sesuatu yang beda-vagetoz)
Sesampainya di rumah , pikiranku masih kacau . Ingat kelakuan Riko bikin aku semakin membenci yang namanya cinta. Dari dulu yang namanya cinta SELALU MEMBUAT SAKIT HATI ! padahal kata orang cinta itu indah , cinta itu penyemangat hidup dan cinta itu bahagia . Iya , BAHAGIA memang .. tapi hanya di awal saja. Akhir-akhirnya ? tetap menorehkan luka yang sulit untuk terobati. Tiba-tiba handphoneku berdering dan Brian meneleponku.
“Halo.” Sapaku lirih.
“Hai Metta .. Besok jalan yuk ,” ajak Brian padaku.
“Aku males mau keluar ..” tolakku pelan.
“Ayolah . Sekali ini aja , janji deh ..” paksanya lagi.
“Kemana ?” tanyaku enggan.
“Udahlah , ikut aja . Mau ya ?? please ….” Pintanya .
“Ya deh ..” sahutku setuku.
“Besok aku jemput jam 9 ya. Bye nona biru ..” ucap Brian lagi.
Klikk ! Aku ingin memejamkan mata sejenak .
*****
“Ngapain kita kesini ?” tanyaku ketika Brian mengajakku berjalan di dekat sungai.
“Aku mau kita menulis harapan kita di botol ini terus kita kubur . Dua tahun lagi kita kesini terus kita baca harapannya.” Jawab Brian tersenyum.
“Kenapa harus dua tahun lagi ?” tanyaku heran.
“Biar seru dong ..” jawabnya tertawa.
Aku hanya mengangguk pelan .
“Jangan sedih dong nona biru , senyum “ ucap Brian lagi.
Aku tersenyum . Kemudian Brian memberikanku kertas dan bolpoin . Dia sibuk menuliskan harapannya , sedangkan aku bingung mau menulis apa . Tiba-tiba muncul ide ..
Harapanku ..
Aku tidak ingin merasakan sakit hati lagi. Aku tak ingin menangisi cinta yang memang sudah jelas menyakitiku. Aku hanya ingin Tuhan memberikanku malaikat yang tulus mencintaiku , berbagi hal denganku dan dapat menjagaku . Aku tidak menginginkan adanya pengkhianatan , aku tak ingin hati ini terluka terus menerus.
Aku hanya ingin satu , yaitu BAHAGIA ! Tersenyum tulus , melepaskan semua beban hidup dan mencari cinta sejati berupa malaikatMu .
Pertemukanku dengan dirinya .. Aku akan mencintai malaikat itu dengan tulus . Untuk sementara waktu , biarkan hati ini kosong Tuhan .. Biarkan hati ini menjadi milik semua orang yang mencintaiku. Keluarga , sahabat dan semua yang mencintaiku. Hati ini bukan milik siapa-siapa sampai malaikat itu hadir dalam hidup. Satu lagi Tuhan , lebih baik malaikat itu datang tanpa sayap daripada dia mempunyai sayap namun akhirnya patah juga. AMIN
Setelah aku menulis , aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam botol. Kulihat Brian begitu serius menulis, hati ini penasaran tapi biarlah semua terjawab dua tahun lagi .
*****
Beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Tante , Desti dan Rama mengantarkanku sampai airport. Dengan berat aku harus pergi dan melanjutkan studiku disana. Aku berharap aku ngga akan pernah bertemu dengan Riko , sang mantan.
“Kak , kakak ngga mau nunggu kak Brian ?” tanya Desti padaku.
“Brian udah pulang ke Jakarta kemarin Des ,” jawabku tersenyum.
“Semoga kakak bisa bertemu dengannya disana ya ..” ucap Desti menimpali.
Aku hanya tersenyum dan segera berangkat menuju Jakarta. Usahaku untuk menghibur diri disini ternyata sia-sia. Cinta yang aku miliki sudah pergi dengan sebuah pengkhianatan. Sampai detik ini aku tak ingin tau alasannya apa , itu akan lebih membuatku sakit hati .
Saat kau pergi berlinanglah airmataku
Betapa singkat kurasakan
Kebahagiaan itu kini lenyaplah sudah
Tak pernah ku inginkan
Perpisahan ini terjadi
Kuhanya bisa merelakan
Jika memang kau pikir inilah yang terbaik
Tak perlu kau beri alasan
Mengapa kau ingin pergi meninggalkan diriku
Karena ku yakin mungkin semuanya itu bisa
Membuatmu bahagia
Sepenuhnya ku menyadari
Bahwa cinta itu tak mesti harus memiliki
Namun ku akan terus slalu menyayangimu
Setulusnya hati .. (saat kau pergi-vagetos)
Perjalanan panjang membuatku capek. Sesampainya di rumah aku segera membanting tubuhku ke atas tempat tidur. Tiba-tiba handphoneku berdering.
“Halo Brian ..” ucapku senang ketika aku tau yang menelepon adalah Brian.
“Metta , udah sampai ya ? Gimana perjalanannya ?” tanyanya pelan.
“Capek banget badanku rasanya. Eh Brian , rumah kamu daerah mana ?” jawabku sambil bertanya.
“Emang kenapa ? Mau ke rumahku ya ?” godanya sambil tertawa.
“Iya .. hhahahaha..” sahutku ikutan tertawa.
“Suatu saat kamu pasti tau. Eh Metta , inget dua tahun lagi ya ..” ucap Brian .
“Pasti dong. Kapan kita ketemu lagi ?” tanyaku berharap.
“Pasti ketemu kok. Tinggal masalah waktu aja.” Jawabnya sok misterius.
Setelah sampai Jakarta dan aku memulai aktivitasku seperti biasa , harapan untuk bertemu Brian kian tertanam kuat dalam hati. Tapi mengapa Brian seakan-akan menghindariku ? Dia tidak pernah mau memberitahu alamat rumahnya. Tapi itu tak menghancurkan niatku untuk mencarinya. Di café , di studio music atau dimana pun tempat tongkrongan anak aneh kayak Brian aku selalu datangi. Tetapi hasilnya nihil . Sampai akhirnya aku dan Brian tak berhubungan lagi. Nomor handphonenya tidak aktif . Apa-apaan ini ?
“Metta , kamu diterima ..” ucap Ruri, sahabatku.
“Apa ? Yee .. akhirnya .” sahutku bahagia .
Akhirnya pintu kesuksesan sudah ada di depan mata. Aku akan memulai kisah baru di bangku kuliah bersama orang-orang baru dan sifat baru juga pastinya. Yang pasti aku akan membuka HATI BARU yang mau tak mau harus melepas semua tentang Riko yang selama ini sedikit membekas dalam hati. Tiba-tiba ada sebuah sms masuk.
‘Selamat ya Metta ..’
SMS singkat namun membuatku penasaran dengan si pengirimnya. Aku sms balik tapi tak ada jawaban . Siapapun itu , aku hanya bisa mengucapkan terima kasih
*****
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa aku sudah memasuki semester dua. Aku menghabiskan waktu berlibur ke rumah tante sekedar untuk mendinginkan otak dan menepati janji pada Brian.
“Brian kemana sih ? Kenapa dia ngga menghubungi aku ? Udah dua tahun lamanya , pasti dia lupa sama botol itu. Huuu ,” batinku kesal.
Kemudian aku memutuskan untuk pergi ke sungai. Aku akan membaca harapan yang dua tahun lalu aku dan Brian pendam. Tapi aku masih menunggu kehadiran Brian. Sekarang tepat dua tahun dan dia harusnya bersamaku disini.
Satu jam , dua jam , tiga jam . Tak ada tanda-tanda kehadiran Brian. Tiba-tiba terlihat bayangan seseorang yang mendekatiku. Dan itu adalah …
“Rey ..” ucapku terkejut.
“Hai Metta . Udah lama ?” tanya Rey tersenyum.
“Mana Brian Rey ?” tanyaku tanpa peduli pertanyaan dari Rey.
“Ntar aku cerita sama kamu. Tapi , sekarang waktunya kamu tau apa harapan dari Brian ya ,” jawab Rey sambil berusaha mengambil botol yang telah dikubur.
“Ini Metta , kamu baca .” ucapnya setelah menemukan botol dan menyerahkannya kepadaku. Dengan perasaan bingung , aku membuka kertas yang lumayan lusuh itu dan kulihat tulisan tangan Brian.
Harapanku .
Aku ingin jodohku adalah Metta . Aku ingin cinta sejatiku adalah Metta . Aku tak ingin siapapun kecuali dia. Aku terima semua kelebihan dan kekurangannya . Tuhan , izinkan harapanku terkabul.
Untuk Metta , aku minta maaf mungkin saat kamu membaca harapanku , aku tidak bisa menemanimu. Aku memang sengaja mengatur semua ini. Sejujurnya Metta , aku mencintai kamu sejak pertama kali kita bertemu. Aku tak pernah melupakan pelukan dari kamu . Setiap hari yang ada di dalam pikiranku cuma kamu. Aku tak bisa membohongi perasaanku .
Aku tak ingin membuatmu menangis seperti sebelumnya , aku tak ingin membuatmu bersedih . Aku hanya ingin kamu mengingatku dengan cara yang lain , misalnya karena sering membuat kamu kesal , sebel dan marah. Maaf ya Metta
Saat ini , aku sedang menghabiskan dua semester terakhirku di Australia. Maaf aku ngga pernah cerita sama kamu. Waktu orang tuaku kesini , itu karena mereka merindukanku sedangkan aku hanya ingin menghabiskan liburanku disini , bersama kamu .
Metta , tunggu aku pulang ya dan aku akan membahagiakan kamu
Mataku berkaca-kaca saat membaca harapan Brian. Ternyata Brian tak ingin membuatku menunggu dengan ketidakpastian , makanya dia menyuruhku datang ke tempat ini dua tahun setelah harapan ini kami tulis. Dia ingin konsentrasi belajar disana , dia tak ingin mengganggu belajarku disini . Dia tak pernah memberitahu alamatnya disini karena dia berada di Australia dan dia tak pernah menghubungiku karena dia sedang sibuk mempersiapkan semua skripsi dan sebagainya . Dia ingin sukses terlebih dahulu sebelum membahagiakan aku . Tak tau kenapa , ada perasaan aneh yang melanda hatiku.
“Metta , tapi kamu jangan khawatir Brian disana sama cewek lain. Ngga kok. Kemarin malam dia chatting sama aku , katanya dua minggu lagi dia bakalan pulang kesini .” ucap Rey menenangkan pikiran negatifku.
“Dia pulang ? Beneran Rey ?” tanyaku memastikan.
Rey mengangguk pelan .
Aku baru tahu, orang yang mengirim sms kepadaku adalah Brian. Teman-temannya memberitahu hasil pengumuman itu dan dia menyempatkan diri memberi selamat padaku walaupun hanya melalui pesan singkat saja .
“Riko , kamu jahat sama aku. Kenapa kamu tega mutusin aku kayak gini ? kenapa kamu tega sama aku . padahal kamu ngga pernah ngasih kabar apapun sama aku , kamu ngga pernah hubungi aku lagi dan akhirnya kamu mutusin aku kayak gini.” ucapku terluka .
Sambil berjalan aku mengingat lagi kenanganku bersamanya . Saat dia pertama kali jatuh cinta sama aku , saat masa PDKT kita , saat dia nembak aku dan akhirnya pacaran . Semua bagai memori yang mau tidak mau harus di delete dari otakku. :’(
*****
“Brian , kamu ngga ngejar Metta?” tanya Lucki pada Brian.
“Aku takut ntar dia makin marah sama aku. “ jawab Brian murung.
“Apapun itu , yang penting kamu usaha. Ayo cepet kejar…” sahut Rey menimpali.
“Kesempatan akan kita dapatkan kalau kita mau menciptakan kesempatan itu. Kapan lagi coba ..” ucap Chiko tersenyum.
Dengan percaya diri , Brian segera berlari menyusulku ..
Setelah dia melihatku yang berjalan dengan langkah tak menentu , dia mempercepat langkahnya.
“Metta …” teriak Brian padaku.
Aku tak memperdulikan teriak Brian.
“Met .. maafin aku ya gara-gara ……..” ucap Brian terkejut melihatku menangis.
“Kenapa kamu ?” tanya Brian lagi.
Dengan sigap , aku memeluknya. Aku menangis dipelukannya. Airmata ini mengalir di bajunya bersama tetesan air hujan .
“Metta , kamu kenapa ?” tanya Brian khawatir.
Aku ngga bisa berbicara sepatah kata pun . Melihat hal ini , Brian menggendongku dan mempercepat langkahnya mencari tempat untuk berteduh.
“Met , kamu kenapa ? cerita ke aku ?” tanya Brian menurunkanku di gubuk tempat Rama dan aku berbicara tadi.
“Aku .. aku putus ..” jawabku singkat. Kembali airmata ini mengalir lagi dan kali ini semakin deras.
“Kok bisa ?” tanyanya heran.
Tanpa sadar aku bercerita semua kepada Brian. Pacarku adalah Riko . Dia seumuran denganku dan kebetulan dia temanku juga di SMA. Aku dan dia sudah pacaran selama hampir lima bulan. Banyak hal yang kita lalui bersama , namun akhir-akhir ini dia berbeda. Untuk menghubungiku saja rasanya enggan apalagi bertemu denganku. Banyak waktu yang aku gunakan untuk menunggunya hingga aku memutuskan berlibur ke rumah tanteku . Aku berusaha membuang pikiran negatifku tentangnya dan menghibur diri disini. Tapi , DIA MEMUTUSKAN HUBUNGAN KITA SECARA SEPIHAK DAN TIBA-TIBA ! Dia tak pernah mengerti bagaimana perasaanku , dia tak pernah tau bagaimana sakitnya hatiku saat aku menunggu di antara ketidakpastian. Dia yang berjanji memberikanku kebahagiaan namun akhirnya memberikanku sejuta kesedihan. Dia yang berjanji untuk membuatku tak menangis lagi namun akhirnya dia membuatku menangis , menangis dan menangis .
“Apa salahku Brian ? Aku memang ngga sempurna. Banyak cewek di luar sana yang lebih dari aku , tapi MANA ADA SIH CEWEK YANG MAU DITINDAS ! Mana ada Brian?” ucapku sedikit emosi.
“Kamu tenang ya Metta.. kamu harus sabar . Kamu harus percaya kalau Tuhan itu pasti akan memberikan kamu yang terbaik , lebih dari dirinya dan kamu harus percaya dengan hukum karma. Tuhan itu adil Metta . Kamu harus kuat . Kamu tau , dulu dan sekarang kamu menangis kayak gini , tapi kamu harus yakin kalau suatu saat tetesan airmata yang udah kamu keluarin itu akan berubah menjadi satu kebahagiaan yang abadi. Kamu harus yakin itu , Tuhan sedang menyiapkan malaikat cintanya untuk kamu. Tenang ya ..” hibur Brian peduli.
Tak tau kenapa , kata-kata itu membuatku sedikit tenang dan merasa nyaman.
“Aku salah apa sih sampai dia kayak gini ke aku ? Padahal aku udah sayang banget sama dia.” ucapku lirih.
Dalam hatiku ada kamu ..
Namun dihatimu adakah aku
Tolonglah katakan sayang
Karena kurasa kini kau berubah
Walau dirimu masih milikku
Namun diragu akan cintamu
Kumohon katakan sayang
Karena kutakut kehilangan cintamu (jujur saja- wonderboys)
“Metta , kita pulang ya . Jangan nangis lagi dong , ntar jelek lho ..” hibur Brian lagi.
“Emang aku udah jelek kok ,” ucapku sedikit terhibur.
“Ya tambah jelek deh. Lihat tuh , mata udah bengkak ditambah hidung kamu merah kayak gitu , kayak badut tau ngga ..” ejek Brian tertawa sambil menghapus airmataku.
Mau tak mau aku tertawa bersamanya .
“Brian , makasih ya kamu udah buat aku terhibur kayak gini .” ucapku tersenyum.
“Iya nona biru , aku berusaha untuk itu .” sahut Brian tersenyum juga.
“Dasar nyebelin kamu ..” ucapku memukul lengannya.
“Aww , habis ditonjok Rama eh sekarang dipukul kamu. Sakit tau..” godanya padaku.
Aku hanya bisa tertawa . Tiba-tiba ada seseorang yang memeluk Brian dari belakang…..
“Kak Brian . Pulang ya kak ,” ucapnya pada Brian.
Aku terkejut , ternyata yang memeluk Brian adalah seorang gadis seusia Desti.
“Bella ..” ucap Brian kemudian. Seketika itu Brian langsung memeluk gadis itu. Mendadak suasana menjadi haru.
“Kamu sama siapa Bel ?” tanya Brian menghapus airmata gadis yang bernama Bella itu seperti dia menghapus airmataku tadi.
Bella tak menjawab tapi jari telunjuknya menunjuk pada seorang bapak dan ibu yang berdiri mengawasi tingkah mereka berdua sambil tersenyum . Lalu mereka mendekati Brian.
“Mama .. Papa ..” ucap Brian senang.
“Pulang ya nak . Mama udah kangen sama kamu,” sahut mama Brian menangis.
Brian hanya mengangguk.
“Eh ma , pa .. kenalin ini Metta.” Ucap Brian memperkenalkanku.
“Hai om , tante ..” sahutku ramah.
“Pacar baru kakak ya ?” tanya Bella , adik Brian.
“Maunya sih gitu , tapi masih belum Bel ,” jawab Brian mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku hanya bisa terdiam.
“Kak Metta , mau ya jadi pacarnya kakak. Pasti ngga nyesel deh . Kak Brian baik lho , dia terakhir pacaran waktu kelas satu SMA .” celoteh Bella padaku.
Aku hanya berusaha tertawa mengimbangi suasana yang ada.
*****
Ternyata kau sudah tak lagi mencintaiku
Dan kau ingin akhiri
Semua sampai disini
Maafkan jika selama ini
Aku tak bisa
Bahagiakan dirimu .. bahagiakan dirimu (sesuatu yang beda-vagetoz)
Sesampainya di rumah , pikiranku masih kacau . Ingat kelakuan Riko bikin aku semakin membenci yang namanya cinta. Dari dulu yang namanya cinta SELALU MEMBUAT SAKIT HATI ! padahal kata orang cinta itu indah , cinta itu penyemangat hidup dan cinta itu bahagia . Iya , BAHAGIA memang .. tapi hanya di awal saja. Akhir-akhirnya ? tetap menorehkan luka yang sulit untuk terobati. Tiba-tiba handphoneku berdering dan Brian meneleponku.
“Halo.” Sapaku lirih.
“Hai Metta .. Besok jalan yuk ,” ajak Brian padaku.
“Aku males mau keluar ..” tolakku pelan.
“Ayolah . Sekali ini aja , janji deh ..” paksanya lagi.
“Kemana ?” tanyaku enggan.
“Udahlah , ikut aja . Mau ya ?? please ….” Pintanya .
“Ya deh ..” sahutku setuku.
“Besok aku jemput jam 9 ya. Bye nona biru ..” ucap Brian lagi.
Klikk ! Aku ingin memejamkan mata sejenak .
*****
“Ngapain kita kesini ?” tanyaku ketika Brian mengajakku berjalan di dekat sungai.
“Aku mau kita menulis harapan kita di botol ini terus kita kubur . Dua tahun lagi kita kesini terus kita baca harapannya.” Jawab Brian tersenyum.
“Kenapa harus dua tahun lagi ?” tanyaku heran.
“Biar seru dong ..” jawabnya tertawa.
Aku hanya mengangguk pelan .
“Jangan sedih dong nona biru , senyum “ ucap Brian lagi.
Aku tersenyum . Kemudian Brian memberikanku kertas dan bolpoin . Dia sibuk menuliskan harapannya , sedangkan aku bingung mau menulis apa . Tiba-tiba muncul ide ..
Harapanku ..
Aku tidak ingin merasakan sakit hati lagi. Aku tak ingin menangisi cinta yang memang sudah jelas menyakitiku. Aku hanya ingin Tuhan memberikanku malaikat yang tulus mencintaiku , berbagi hal denganku dan dapat menjagaku . Aku tidak menginginkan adanya pengkhianatan , aku tak ingin hati ini terluka terus menerus.
Aku hanya ingin satu , yaitu BAHAGIA ! Tersenyum tulus , melepaskan semua beban hidup dan mencari cinta sejati berupa malaikatMu .
Pertemukanku dengan dirinya .. Aku akan mencintai malaikat itu dengan tulus . Untuk sementara waktu , biarkan hati ini kosong Tuhan .. Biarkan hati ini menjadi milik semua orang yang mencintaiku. Keluarga , sahabat dan semua yang mencintaiku. Hati ini bukan milik siapa-siapa sampai malaikat itu hadir dalam hidup. Satu lagi Tuhan , lebih baik malaikat itu datang tanpa sayap daripada dia mempunyai sayap namun akhirnya patah juga. AMIN
Setelah aku menulis , aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam botol. Kulihat Brian begitu serius menulis, hati ini penasaran tapi biarlah semua terjawab dua tahun lagi .
*****
Beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Tante , Desti dan Rama mengantarkanku sampai airport. Dengan berat aku harus pergi dan melanjutkan studiku disana. Aku berharap aku ngga akan pernah bertemu dengan Riko , sang mantan.
“Kak , kakak ngga mau nunggu kak Brian ?” tanya Desti padaku.
“Brian udah pulang ke Jakarta kemarin Des ,” jawabku tersenyum.
“Semoga kakak bisa bertemu dengannya disana ya ..” ucap Desti menimpali.
Aku hanya tersenyum dan segera berangkat menuju Jakarta. Usahaku untuk menghibur diri disini ternyata sia-sia. Cinta yang aku miliki sudah pergi dengan sebuah pengkhianatan. Sampai detik ini aku tak ingin tau alasannya apa , itu akan lebih membuatku sakit hati .
Saat kau pergi berlinanglah airmataku
Betapa singkat kurasakan
Kebahagiaan itu kini lenyaplah sudah
Tak pernah ku inginkan
Perpisahan ini terjadi
Kuhanya bisa merelakan
Jika memang kau pikir inilah yang terbaik
Tak perlu kau beri alasan
Mengapa kau ingin pergi meninggalkan diriku
Karena ku yakin mungkin semuanya itu bisa
Membuatmu bahagia
Sepenuhnya ku menyadari
Bahwa cinta itu tak mesti harus memiliki
Namun ku akan terus slalu menyayangimu
Setulusnya hati .. (saat kau pergi-vagetos)
Perjalanan panjang membuatku capek. Sesampainya di rumah aku segera membanting tubuhku ke atas tempat tidur. Tiba-tiba handphoneku berdering.
“Halo Brian ..” ucapku senang ketika aku tau yang menelepon adalah Brian.
“Metta , udah sampai ya ? Gimana perjalanannya ?” tanyanya pelan.
“Capek banget badanku rasanya. Eh Brian , rumah kamu daerah mana ?” jawabku sambil bertanya.
“Emang kenapa ? Mau ke rumahku ya ?” godanya sambil tertawa.
“Iya .. hhahahaha..” sahutku ikutan tertawa.
“Suatu saat kamu pasti tau. Eh Metta , inget dua tahun lagi ya ..” ucap Brian .
“Pasti dong. Kapan kita ketemu lagi ?” tanyaku berharap.
“Pasti ketemu kok. Tinggal masalah waktu aja.” Jawabnya sok misterius.
Setelah sampai Jakarta dan aku memulai aktivitasku seperti biasa , harapan untuk bertemu Brian kian tertanam kuat dalam hati. Tapi mengapa Brian seakan-akan menghindariku ? Dia tidak pernah mau memberitahu alamat rumahnya. Tapi itu tak menghancurkan niatku untuk mencarinya. Di café , di studio music atau dimana pun tempat tongkrongan anak aneh kayak Brian aku selalu datangi. Tetapi hasilnya nihil . Sampai akhirnya aku dan Brian tak berhubungan lagi. Nomor handphonenya tidak aktif . Apa-apaan ini ?
“Metta , kamu diterima ..” ucap Ruri, sahabatku.
“Apa ? Yee .. akhirnya .” sahutku bahagia .
Akhirnya pintu kesuksesan sudah ada di depan mata. Aku akan memulai kisah baru di bangku kuliah bersama orang-orang baru dan sifat baru juga pastinya. Yang pasti aku akan membuka HATI BARU yang mau tak mau harus melepas semua tentang Riko yang selama ini sedikit membekas dalam hati. Tiba-tiba ada sebuah sms masuk.
‘Selamat ya Metta ..’
SMS singkat namun membuatku penasaran dengan si pengirimnya. Aku sms balik tapi tak ada jawaban . Siapapun itu , aku hanya bisa mengucapkan terima kasih
*****
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa aku sudah memasuki semester dua. Aku menghabiskan waktu berlibur ke rumah tante sekedar untuk mendinginkan otak dan menepati janji pada Brian.
“Brian kemana sih ? Kenapa dia ngga menghubungi aku ? Udah dua tahun lamanya , pasti dia lupa sama botol itu. Huuu ,” batinku kesal.
Kemudian aku memutuskan untuk pergi ke sungai. Aku akan membaca harapan yang dua tahun lalu aku dan Brian pendam. Tapi aku masih menunggu kehadiran Brian. Sekarang tepat dua tahun dan dia harusnya bersamaku disini.
Satu jam , dua jam , tiga jam . Tak ada tanda-tanda kehadiran Brian. Tiba-tiba terlihat bayangan seseorang yang mendekatiku. Dan itu adalah …
“Rey ..” ucapku terkejut.
“Hai Metta . Udah lama ?” tanya Rey tersenyum.
“Mana Brian Rey ?” tanyaku tanpa peduli pertanyaan dari Rey.
“Ntar aku cerita sama kamu. Tapi , sekarang waktunya kamu tau apa harapan dari Brian ya ,” jawab Rey sambil berusaha mengambil botol yang telah dikubur.
“Ini Metta , kamu baca .” ucapnya setelah menemukan botol dan menyerahkannya kepadaku. Dengan perasaan bingung , aku membuka kertas yang lumayan lusuh itu dan kulihat tulisan tangan Brian.
Harapanku .
Aku ingin jodohku adalah Metta . Aku ingin cinta sejatiku adalah Metta . Aku tak ingin siapapun kecuali dia. Aku terima semua kelebihan dan kekurangannya . Tuhan , izinkan harapanku terkabul.
Untuk Metta , aku minta maaf mungkin saat kamu membaca harapanku , aku tidak bisa menemanimu. Aku memang sengaja mengatur semua ini. Sejujurnya Metta , aku mencintai kamu sejak pertama kali kita bertemu. Aku tak pernah melupakan pelukan dari kamu . Setiap hari yang ada di dalam pikiranku cuma kamu. Aku tak bisa membohongi perasaanku .
Aku tak ingin membuatmu menangis seperti sebelumnya , aku tak ingin membuatmu bersedih . Aku hanya ingin kamu mengingatku dengan cara yang lain , misalnya karena sering membuat kamu kesal , sebel dan marah. Maaf ya Metta
Saat ini , aku sedang menghabiskan dua semester terakhirku di Australia. Maaf aku ngga pernah cerita sama kamu. Waktu orang tuaku kesini , itu karena mereka merindukanku sedangkan aku hanya ingin menghabiskan liburanku disini , bersama kamu .
Metta , tunggu aku pulang ya dan aku akan membahagiakan kamu
Mataku berkaca-kaca saat membaca harapan Brian. Ternyata Brian tak ingin membuatku menunggu dengan ketidakpastian , makanya dia menyuruhku datang ke tempat ini dua tahun setelah harapan ini kami tulis. Dia ingin konsentrasi belajar disana , dia tak ingin mengganggu belajarku disini . Dia tak pernah memberitahu alamatnya disini karena dia berada di Australia dan dia tak pernah menghubungiku karena dia sedang sibuk mempersiapkan semua skripsi dan sebagainya . Dia ingin sukses terlebih dahulu sebelum membahagiakan aku . Tak tau kenapa , ada perasaan aneh yang melanda hatiku.
“Metta , tapi kamu jangan khawatir Brian disana sama cewek lain. Ngga kok. Kemarin malam dia chatting sama aku , katanya dua minggu lagi dia bakalan pulang kesini .” ucap Rey menenangkan pikiran negatifku.
“Dia pulang ? Beneran Rey ?” tanyaku memastikan.
Rey mengangguk pelan .
Aku baru tahu, orang yang mengirim sms kepadaku adalah Brian. Teman-temannya memberitahu hasil pengumuman itu dan dia menyempatkan diri memberi selamat padaku walaupun hanya melalui pesan singkat saja .
Brian , aku akan menunggumu . Aku akan menunggu cintamu . Selama ini , tanpa aku sadari aku mempunyai perasaan yang sama denganmu. Tak ada kabar membuatku selalu memikirkanmu namun berbeda akhir dengan sebelumnya. Tak ada kabarmu ini membuatku bahagia bukan membuatku menangis dan sakit hati. Aku akan menunggu kedatanganmu dan memulai kisah cinta terakhirku . Denganmu .. Hanya denganmu . Harapanku terkabul Tuhan. Malaikatku sudah aku temukan . Malaikat yang akan mewarnai hidupku dengan sejuta cintanya . Terima kasih Tuhan ..
Belum ada Komentar untuk "RAHASIA CINTA TUHAN PART. II"
Posting Komentar