LEUKIMIA MENGAJARKANKU ARTI KETABAHAN
Cerpen Karya Erni
Disuatu pagi yang cerah,kesibukan mulai merambah segala lini kehidupan,mulai dari yang TK sampai Mahasiswa begitu juga dengan para penjahat sampai para pejabat,suatu pemandangan biasa jika ditiap pagi jalanan berubah jadi pasar,hiruk pikuk kendaraan,sampai kepada mereka yang lalu lalang tak jelas,diwarnai para pengamen yang serasa memekak telinga menyanyikan sepotong demi sepotong lagu demi beberapa uang koin untuk menyambung hidup.tapi Jasmine
enggan menatap mentari pagi ini,ia memilih membalut tubuhnya dengan selimut usai shalat subuh. ’’sayang,bangun nakk’’ kedengaran suara seorang laki-laki paruh baya dibalik pintu kamar Jasmine. ’’papa,aku ingin tidur saja hari ini,aku kan sudah wisuda,aku kerja perdana hari senin,biarkan sarjana muda yang cantik ini menikmati tidur yang panjang hari ini,hitung-hitung melepas lelah’’ seru jasmine tanpa menanggalkan selimut dari tubuhnya. ’’tapi sayang,tidur jam segini itu tidak baik’’ jawab Ayah jasmine,tapi tak ada tanggapan dari balik pintu,ia menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah anak semata wayangnya tersebut.Senyum sumringah Jasmine sungguh sangat menawan pada sebuah foto
yang dipajang diruang tamu beberapa hari yang lalu,Ia baru saja diwisuda,gelar sarjana kini disandangnya sekalipun umurnya baru 22 tahun,Jasmine adalah seorang gadis bertubuh tinggi semampai,dibalut dengan kulit bening yang terhijab dengan sempurna,sorot matanya sangat jelas menceritakan bahwa ia adalah gadis manja,maklum ia anak tunggal,Ibunya meninggal saat ia dilahirkan.ia hanya punya Ayah yang berperan ganda menjadi Ibu buat Jasmine,sekaligus sahabat Jasmine yang paling setia.karena dibesarkan dan dididik oleh laki-laki Jasmine tumbuh menjadi gadis Tomboy tapi manja.Ayah Jasmine seorang Guru sejarah yang kini hanya bergantung pada gaji pensiunan yang tak seberapa,tapi ia sungguh sangat bersyukur anak semata wayangnya kini telah menjelma jadi seorang dokter ahli bedah,’’Terima kasih yaaa ALLAH,aku bahkan tidak percaya pada kemampuanku dalam menjaga putriku seorang diri,tapi Aku yakin Engkau tak pernah tertidur bahkan sepersekian detik jua pun’’ lirih Ayah jasmine dalam Do’anya.
‘’papa,aku berangkat kerja,semoga kerja perdanaku lancar yaaa papa,Assalamu alaikum’’ seru Jasmine disuatu pagi dengan senyum cerianya seraya mencium lembut tangan sang Ayah
. ’’Hati-hati nak,Bismillah,Insya ALLAH,semua akan baik-baik saja’’ kata Ayah sambil mengantarkan Jasmine sampai kebibir pagar,Jasmine pun berangkat dengan mengendarai sepeda motor yang berkilau tertimpa mentari pagi.‘’Selamat bergabung diRumah sakit ini’’ kata para Dokter senior menyambut kedatangan Jasmine
, ’’terima kasih pak,semoga kita dapat bekerja sama dengan baik’’ jawab jasmine mantap.Hari demi hari Jasmine menghabiskan sebagian besar waktunya diRumah sakit bersama pasien-pasiennya,sampai pada suatu hari, ’’Dokter Jasmine,,Ayah kamu ada di UGD,aku menemukannya tergeletak dihalaman pagi tadi’’kata seseorang yang tak lain
adalah tetangga Jasmine,Jasmine tak dapat berkata apa-apa,ia berlari ke arah Ruang UGD,fikirannya serasa tercecer tak bisa ia susun dengan baik,kepanikan menguasainya,ia menjerit menangis memeluk Ayahnya yang tak sadarkan diri,Jasmine histeris melihat kondisi Ayahnya yang pucat pasi tak ubahnya seorang Mayat,Jasmine memang tak pulang sejak kemarin karena ia harus mengoperasi salah seorang pasiennya yang tengah kritis. ’’Dok,papa saya
kenapa Dok ??’’ tanya Jasmine pada seorang dokter senior yang tengah memeriksa Ayahnya, ’’sebentar dok,kita tidak boleh menduga-duga,akan saya periksa lagi’’, ’’Dokter sembuhkan papa saya dok,aku mohon’’ rengek jasmine pada dokter tersebut. ‘’Sabar dok,yang tenang,saya akan mengusahakan yang terbaik,suster,siapkan ruang ICU’’ Dokter itupun berlalu meninggalkan Jasmine yang masih mematung bersama kebingungan. ’’Dokter Jasmine,dokter Hendra ingin bicara dengan anda di ruangannya’’ kata seorang perawat mengagetkan jasmine,iapun berlalu meninggalkan perawat tersebut tanpa permisi, ’’ada apa dok ??’’ tanya jasmine seraya duduk disamping dokter Hendra, ’’Ayah kamu mengidap leukimia’’ ia tak memandang mata Jasmine karena ia tak sanggup melihat gadis itu menangis,gadis yang ia cintai dalam diam, ’’hasil lab positif,tapi aku akan cek ulang kok,untuk memastikan lagi’’ sambung Dokter Hendra.Jasmine tak berkutik.air mata mengalir meninggalkan kelopak matanya yang indah, ’’Sembuhkan ia,ku mohon’’, ’’Dokter Jasmine jangan memohon padaku,tapi memohonlah pada Allah agar kita diberi kemudahan,semoga semua baik-baik saja’’ kata Dokter Hendra,berusaha menguatkan Jasmine. ’’Aku takut,aku hanya punya Dia,Dok’’,kata Jasmine sayu,kesedihan berhasil merenggut kesadaran Jasmine,ia tak sadarkan diri.Dokter Hendra memindahkan Jamine kekasur di ruangannya,ia memandang Jasmine lekat-lekat,ia sadar ia menyayangi Jasmine,tapi ia belum siap jika seandainya ia tak diterima dalam kehidupan Jasmine.ia tak berusaha menyadarkan Jasmine karena ia tahu,Jasmine butuh waktu untuk istirahat. ‘’Aku dimana ??? kenapa aku disini ?? papa mana ??’’ tanya
Jasmine bertubi-tubi begitu ia siuman kepada Dokter Hendra yang tengah menganalisa sesuatu dimeja kerja yang tak jauh dari tempat Jasmine berbaring. ’’tadi kamu pingsan,jadi aku bawa kamu kesini,Ayah kamu masih di ICU,keadaannya mulai membaik tapi ia belum sadar,mari saya antar kamu kesana,kondisi kamu lemah,usahakan jaga stamina karena kamu masih banyak pasien,dan kamu juga harus rawat Ayah kamu’’ kata Dokter Hendra panjang lebar tanpa menoleh dari layar laptop. ’’Dokter bawel,bicara pakai spasi donggg’’ seru Jasmine tersenyum,ia mencoba bangkit tapi penglihatannya kabur,ia hampir saja terjatuh jika saja lengannya tak dipegang Dokter Hendra dengan cepat. ’’mari saya antar’’ ujarnya kemudian.Jasmine
terduduk disamping Ayahnya yang belum juga siuman,ia menatapnya lekat-lekat,ada rasa ketakutan yang menjalari relung hatinya,tanpa ia sadari air mata telah menganak sungai dipipinya, ’’hmmm,aku keluar yaa,aku rasa kamu ingin sendiri,kalau kamu butuh teman aku ada diruanganku,Oke.’’ Ujar Dokter Hendra kemudian. Jasmine meraih lengan Dokter Hendra, ’’Temani aku disini,aku takut,aku takut jika………’’ Jasmine tak meneruskan ucapannya,air matanya mewakili apa yang ingin diucapkannya. ’’yang sabar Jasmine,Insya Allah Ayah kamu akan baik-baik saja’’ kata Dokter Hendra.‘’papa !!! papa sudah sadar ?? Tanya Jasmine
,melihat Ayahnya membuka mata disuatu pagi yang cukup bersahabat,secerah hati Jasmine. ’’Kamu kenapa menangis sayang,papa baik-baik saja’’ orang tua itu berusaha kuat didepan Putrinya,ia tahu anaknya tak bisa melihatnya terbaring lemah. ’’papa makan dulu yaa,sudah itu papa minum obat’’ kata jasmine menyuapi lelaki paruh baya itu.Selang beberapa hari kemudian,keadaan Ayahnya sudah membaik,Jasmine ditugaskan ke Amerika untuk pelatihan disana,melalui beberapa pertimbangan dan Restu sang Ayah,membuatnya memutuskan untuk berangkat, ’’kesempatan tidak akan datang dua kali’’ gumamnya dalam hati, setelah kepergian Jasmine Ayahnya kembali jatuh sakit,Allah
tak mengijabah do’a jasmine,Allah berkehendak lain,dua hari sejak keberangkatan Jasmine Ayahnya pun berpulang keRahmatullah, ’’Dokter,aku ingin pulang,aku ingin pulang’’ Jasmine histeris mendengar kabar dari Dokter Hendra,beberapa kali ia jatuh pingsan,fikirannya kacau, ’’Nak,Ayahmu telah merestuimu untuk berada disini,lakukan yang terbaik agar ia bangga,jika seandainya kamu pulang,Ayahmu pasti tak akan tenang melihat anaknya menyerah,Bapak mohon agar ini dipertimbangkan lagi’’.Jasmine
terdiam,ia menangis sejadi-jadinya,Fikirannya kosong,ia dilanda kebingungan,ia tak mampu berfikir jernih, ’’yaa Allah,kenapa ?? kenapa aku tak bisa melihat Ayahku untuk yang terakhir kalinya ?? kenapa Engkau tak menungguku kembali ?? kenapa yaa Allah ??’’ jerit Jasmine dalam shalatnya.‘’Dok,saya memilih untuk tetap disini dengan restunya’’ kata jasmine
keesokan harinya,ia berusaha tegar, ’’bukankah membuat papa senang adalah segalanya ??’’ lirih hati Jasmine berusaha menyemangati dirinya.Setelah tiga hari di Amerika,akhirnya tiba saatnya untuk pulang,berat kaki Jasmine menaiki pesawat,Otaknya tak bisa bekerja dengan baik, ’’Papa,aku pulang,,tapi aku tak dapat melihat senyum banggamu lagi,aku tak dapat melunasi rasa kangenku padamu ?? tak siap rasanya aku menaburkan bunga diatas pusaramu..’’tangis jasmine.
Sesampainya di Indonesia,Jasmine enggan meninggalkan bandara,ia tak ingin pulang kerumah. ’’Dokter Jasmine !!!’’ panggil seseorang, Jasmine menoleh,’’Dokter Hendra ???’’ gumam Jasmine,’’bagaimana bisa ??’’ lanjutnya kemudian, ’’Waktu itu,aku menunaikan janjiku padamu untuk menjenguknya,sesampainya disana,aku lihat ia tengah memandangi foto
wisuda kamu,ia bercerita panjang lebar tentang kamu,seusai ia bercerita,ia pucat dan jatuh pingsan,aku membawanya kerumah sakit,tapi Allah berkehendak lain,maafkan saya Dok’’ cerita Dokter Hendra pada Jasmine dalam perjalanan pulang, ’’Tidak usah minta maaf dok,dokter tidak salah,hmmm,bisakah kita langsung ke……’’ ‘’yaa’’ potong Hendra,ia mengerti maksud jasmine.Air mata tak dapat ia bendung,ia mencium nisan sang
Ayah berulang kali, ’’Jasmine,hari sudah mulai gelap,bagaimana jika kita pulang,kita bisa kembali lagi keesokan harinya’’ ujar Hendra hati-hati.Jasmine
mengangguk,setibanya dirumah,Jasmine hanya diam,kesepian menyapa kepulangannya,ia memandang potret sang Ayah yang tengah memeluknya saat lulus SMA,semalaman ia tak tidur,ia berbaring lemas dikamar orang yang dicintainya yang ia panggil dengan sebutan papa.Jasmine izin selama seminggu,konsentrasinya tak dapat ia jaga,emosinya kembang-kempis,fikirannya kosong,hatinya tengah merindu.hanya Dokter Hendra yang kadang datang menjenguknya seusai kerja.Hari demi hari Jasmine mulai terlihat tersenyum,ia kembali sibuk dengan pasien-pasiennya,sekalipun ia sibuk,ia tetap punya celah untuk merindukan sosok malaikat yang telah mengenalkannya kepada dunia.sampai pada suatu hari Jasmine resmi menjadi Istri dari Dokter Hendra tanpa embel-embel pacaran, mereka menjelma menjadi keluarga yang sakinah,mawaddah dan warahmah,tapi sampai ulang tahun pernikahannya yang ketiga mereka masih belum dikaruniai Buah hati,tetapi mereka tetap bisa menjaga ikrar janji setia mereka didepan penghulu atas nama Allah
.belakangan ini Jasmine sering mengeluh nyeri pada persendiannya,tapi ia menolak untuk memeriksanya karena ia fikir itu terjadi karena ia kelelahan dalam bekerja.‘’Bunda’’ panggil Hendra disuatu pagi, ’’aku tahu kamu kuat,apalagi kamu seorang dokter,Ayah rasa kamu bisa pahami ini’’ ujar Hendra pada Jasmine,istrinya.seraya menunjukkan secarik kertas.
Jasmine terdiam seusai membaca beberapa kalimat yang tertera pada kertas tersebut,lagi-lagi air mata yang angkat bicara,Hendra merangkul Jasmine,berusaha menenangkannya, ’’Ayah,apa ini artinya aku akan meninggal tanpa meninggalkan kenangan buatmu ??? tanya jasmine lirih, ‘’Bunda,inikan masih bisa disembuhkan,kita
berusaha lalu kita bertawakal’’.‘’Tuhan,kenapa leukimia tak puas merenggut papaku,,kenapa ia kembali untuk menjemputku ??? tapi aku tidak menyesal Tuhan,aku yakin ini atas perintah-MU dan aku akan jalani ujian-MU dengan segenap jiwa dan ragaku,aku akan menyerah jika ajalku telah tiba,sampai pada saat itu tiba aku akan berusaha menjaga keikhlasan dan kesabaranku kepada-MU.Kuatkan aku menjalani ini ya Allah’’ pinta Jasmine dalam tahajudnya.ia yakin Allah tak akan menguji Hamba-NYA melebihi batas kemampuan hamba-NYA.
Jasmine menjalani hari-hari seperti biasanya,ia mengobati pasien-pasiennya sekaligus menjalani pengobatan untuk menyembuhkan leukimia yang tengah dideritanya,meski kemungkinan sembuh sangat kecil,tapi atas dukungan suaminya Jasmine mendapat motivasi besar yang terkadang membuatnya yakin akan keajaiban.tapi leukimia yang tengah dideritanya kian menggurita membuatnya semakin tak berdaya, ’’Bunda,bagaimana jika Bunda berhenti bekerja untuk sementara waktu,bundakan tidak boleh lelah ??’’ bujuk Hendra pada istrinya,tapi bujukan itu baru terealisasikan tiga bulan kemudian,ketika Jasmine merasa ia benar-benar tak mampu lagi bangun dari tempat tidur.
Detik demi detik kondisi Jasmine semakin melemah, ’’Ayah,jika nanti aku meninggal,aku mohon Ayah jangan menangis dan jangan juga sedih terlalu lama,aku akan marah jika Ayah meratapi kepergianku’’ kata Jasmine disalah satu kamar rumah sakit tempat ia dirawat. ’’Bunda,jangan berkata seperti itu,yakinlah bahwa Bunda akan terbangun dari mimpi buruk ini untuk kembali merawat pasien-pasien bunda,Dunia membutuhkan orang-orang seperti Bunda,jadi Bunda harus kuat’’. ‘’Ayah,aku sudah tidak mampu lagi berpura-pura kuat,aku benar-benar diperbudak leukimia ini,aku tidak kuat lagi’’,Jasmine mulai menangis,tak dapat ia bayangkan perpisahannya dengan suaminya kelak, ’’Bunda,jangan menangis,percuma kita hidup sampai detik ini jika pada akhirnya kita juga akan menyerah’’ kamar kemudian hening,mereka sibuk dengan pemikiran dan ketakutan mereka masing-masing.
‘’Ayah,aku ingin jalan-jalan hari ini,aku ingin kesuatu tempat,tempat dimana papa sering mengajakku saat aku letih menghadapi Dunia’’. ‘’Dimana ???’’ tanya Hendra, ‘’sebuah gunung tak jauh dari sini’’, ‘’tapi…..’’ujar Hendra khawatir, ‘’Aku baik-baik saja Ayah,aku mohon’’ pinta Jasmine memelas. ’’Baiklah’’ Hendra mengalah,ia menepis kemungkinan terburuk yang hinggap dikepalanya.
Merekapun berangkat mengendarai sebuah mobil dengan perbekalan seadanya.sejak kecil Jasmine hanya menyukai satu tempat rekreasi,gunung,ia tidak begitu tertarik dengan Taman yang hanya bisa menyuguhkan keindahan,iapun tak tertarik pada deburan ombak yang hanya akan membuatnya terambing,berbeda dengan gunung,gunung menyediakan pilihan,antara hanya memimpikan puncaknya atau menapaki lereng gunung yang penuh tantangan untuk dapat menginjakkan kaki dipuncak gunung dengan bangga.
Jasmine terlihat begitu bergairah,ini kali pertama ia kegunung sejak Ayahnya meninggal,tak sabar rasanya ia menapaki lereng-lereng gunung yang menantang,Hendra tak bisa menyembunyikan rasa kekhawatirannya pada sang istri yang kondisinya tak memungkinkan, ’’hmmm,mau bagaimana lagi ?? jika ini bisa mengembalikan senyumnya,semoga ini bisa mengobarkan semangatnya,Tuhan,aku ingin menjaganya karena-MU,aku sungguh belum siap jika harus kehilangan dia’’ Batin Hendra sambil menengadah seolah-olah melihat sang pencipta. ’’Ayah,cepat….sini !!! seru Jasmine yang telah mendaki lebih dulu sambil melambai-lambaikan jemarinya dengan manja. seakan-akan ia punya semangat baru.tubuh Jasmine mulai melemah seiring bertambah tingginya lereng gunung yang tengah ingin ditaklukkannya,tapi hasratnya untuk menaklukkan gunung lebih besar daripada rasa sakit yang tengah dirasakannya.
‘’Alhamdulillah,,puncak saya datang…..!!! teriak Jasmine begitu puncak telah berada tepat didepan matanya. ’’Ayah,ini puncak Ayah’’ seru Jasmine kegirangan bag mendapatkan sesuatu yang sangat berarti.
Hendra hanya tersenyum tapi tetap saja kekhawatirannya tak mampu ia tutupi.setelah melepas lelah mereka mulai menuruni lereng gunung dengan langkah yang dipercepatkan karena hari sudah mulai gelap menandakan sang surya hendak beristirahat.
Kekhawatiran Hendra pun terjadi,keesokan harinya Jasmine menggigil, ’’Ayah..Ayah…Sakit..’’ teriak Jasmine sambil menahan rasa sakit, melihat Istrinya kesakitan Hendra segera membawanya kerumah sakit karena penyakit serius tak dapat ia tangani dirumah. ’’sayang,lebih baik kita keluar negeri,Indonesia tak bisa membantu banyak’’ batin Hendra, ia memutuskan mengobati istrinya diluar negeri, ’’percuma aku dokter,aku tak bisa menyembuhkan istriku sendiri’’ Hendra marah pada dirinya sendiri karena tak bisa menyembuhkan istrinya,ia memutuskan ke Amerika untuk mengobati penyakit orang yang ia cintai. ’’Ayah,kita tidak perlu pergi kesana,mungkin ini sudah takdirku’’ kata Jasmine mulai menyerah. ’’Bunda,lihat aku,aku mencintaimu,bagaimana bisa aku tak melakukan apa-apa untuk menyelamatkanmu,dari takdir itu sekalipun’’ Hendra menatap bola mata Jasmine dengan penuh keyakinan, ’’jika kesembuhan itu mustahil,aku akan mendapatkan kemustahilan itu untukmu,karena aku percaya tak ada yang mustahil selagi kita berusaha’’ ujar Hendra.
Mustahil itupun kini digenggam dan dibawa pulang oleh Jasmine,meskipun kesembuhannya tak bersifat permanen, ’’terima kasih Tuhan,Engkau memberiku tambahan waktu,terima kasih pula Engkau memberiku tulang rusuk dari Hendra,suamiku yang berhasil meyakinkanku bahwa kehidupan masih berpihak kepadaku,terima kasih Tuhan,terima kasih memberiku kebahagiaan yang teramat sangat berlimpah’’ batin Jasmine diatas Sajadah.
Mentari kembali menepati janjinya untuk menyinari Dunia,Jasmine kembali terlihat mengenakan Pakaian putihnya,ia akan kembali mengabdikan dirinya,ia ingin melunasi rasa kangennya pada dunia kedokteran,dunia yang mengantarkannya pada kepedulian terhadap sesama,tapi kali ini berbeda,ia berkunjung kesuatu desa terpencil yang tak punya puskesmas,ia ingin mengabdikan dirinya seutuhnya tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun,kecuali Do’a.
‘’Ayah,aku punya kabar baik dari Tuhan’’ seru Jasmine menyambut kepulangan Suaminya,rasa lelah tubuh Hendra buyar melihat senyum manja istri yang sangat dicintainya itu. ’’Assalamu alaikum,memangnya ada apa,ceria amat ??’’ jawab Hendra mulai penasaran. ’’Waalaikum salam,,Ayah Insya Allah,kita akan punya anak’’. ‘’what,serius ??’’ Hendra tak percaya, Jasmine mengangguk pelan, ’’Alhamdulillah,Alhamdulillah’’ Hendra tak bisa berucap apa-apa karena senangnya.
Jasmine tak diizinkan bekerja oleh suaminya,Hendra takut karena tubuh jasmine sangat lemah pasca pengobatan kemarin.Jasmine pun belajar ikhlas meninggalkan pekerjaan yang telah mendarah daging itu demi menjaga amanah yang tengah dititipkan Tuhan padanya.
Hari demi hari ia lalui dengan penuh kesyukuran,dan sampailah ia pada waktu yang dinanti-nanti,Jasmine melahirkan seorang anak perempuan yang lucu tak ubahnya sebuah boneka.Jasmine dan Hendra tak henti-hentinya bersyukur karena telah dikaruniai seorang putri yang akan melengkapkan kebahagiaan keluarga kecil ini.
Tak henti-hentinya rasa syukur terlontar dari bibir suami istri ini saat bermain-main dengan anak mereka,tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama,belum genap seminggu usia sang Bayi Jasmine jatuh sakit,Hendra tak percaya melihat hasil pemeriksaan kesehatan pada istrinya,hasilnya sama persis dengan peristiwa beberapa tahun yang lalu,Jasmine positif leukimia. ’’Ayah,aku ikhlas jika kali ini aku harus kembali keHadirat-NYA,aku bahagia karena pernah merasakan jadi seorang Ibu,rawat buah hati kita,didik ia menjadi orang yang membanggakan seperti Ayah,buat ia kuat dan tak mudah menyerah seperti Ibunya,jika dia sudah dewasa ceritakan padanya tentangku,bahwa aku pernah hadir dalam kehidupannya meskipun hanya sesaat,dan katakan padanya aku mencintainya’’ kata Jasmine begitu mengetahui fakta akan dirinya. ’’Tidak sayang,,percayalah kamu akan melihatnya tumbuh dewasa,kamu harus kuat demi dia’’ bujuk Hendra,untuk kali ini Hendra menangis dihadapan istrinya, ’’Aku tidak mungkin merawatnya sendiri,aku tidak mungkin menjadi Ayah sekaligus Ibu buatnya,aku mohon bertahanlah’’ tangis Hendra melihat Jasmine yang semakin melemah, ’’Ayah sampai kapan Ayah berusaha untuk menghadirkan keajaiban untukku ?? Ayah,belajar untuk ikhlas Ayah,terkadang kita harus kehilangan sesuatu untuk sesuatu yang baru,Bunda pamit Ayah,ketahuilah Aku mencintai kalian karena Allah,LAILAHA ILLALLAH’’ lirih Jasmine dengan samar, seketika itu jua Jasmine telah kembali keharibaan Ilahi. ’’Bunda…..Bunda….’’ panggil Hendra seakan tak percaya pada apa yang dilihatnya,tapi ia berusaha untuk mrengikhlaskannya karena semua yang bernyawa pasti akan kembali kesisi-NYA, ‘’kita tidak pernah tahu apa alasan Tuhan mengambil orang-Orang yang kita sayang,tapi satu hal yang harus kamu yakini Mengapa Allah mengambil orang-orang yang kita sayang karena Allah lebih menyayanginya’’ kata seorang Dokter senior untuk menguatkan Hendra.dunia kedokteran benar-benar kehilangan sosok yang periang dan pekerja keras.
Hendra kini hidup bersama anaknya yang ia beri nama Melati,ia menunaikan setiap keinginan Jasmine,tiap malam Hendra menceritakan sesuatu tentang Jasmine kepada Melati,dan kini Melati tumbuh Ibarat cerita kehidupan Jasmine yang berulang,hidup tanpa Ibu tapi sangat kaya akan kasih sayang seorang Ayah.Hendra dan Melati kini hidup bahagia,mereka hidup dalam bayangan Jasmine yang tak pernah pudar dimakan waktu. ‘’Terima kasih Allah,hidup ini sungguh indah dengan sekelumit kisah sedih yang Engkau suguhkan,satu pintaku yaa Allah,satukan keluarga kami disisi-MU kelak,di kehidupan yang Abadi’’ batin Hendra ditiap doanya.
Belum ada Komentar untuk "LEUKIMIA MENGAJARKANKU ARTI KETABAHAN"
Posting Komentar