Recent Posts

RINTIHAN KALBU

Cerpen Karya Ayu Eka Budiari

“Fandi....... balikin buku diary aku!!” seru Anita sambil mengejar Fandi agar mau mengembalikan diary miliknya, tapi apa daya, Anita tak bisa mengejar Fandi yang larinya bagaikan kijang di alam liar sana.
“Aduuh parah banget sih si Fandi larinnya cepet banget, aku kan gak kuat ngejar dia,, mana diary aku lagi yang diambil,, mampus lah sekarang aku kalau sampai dia berani buka dan baca tu diary.” Gerutu Anita di depan kelasnya sambil ngos-ngosan sembari mengumpulkan kembali nafas yang dari tadi sudah ia keluarkan hanya untuk mengejar Fandi dan buku diarynya.

Disisi lain Fandi yang memutuskan untuk bersembunyi di belakang kelas adiknya mencoba untuk membuka dan membaca lembar demi lembar yang telah terisi oleh goresan tangan Anita yang telah lama ia incar, karena baru kali ini ia mendapatkan buku diary Anita yang melukiskan seluruh isi perasaannya selama ini. Memang yang ia lakukan ini salah, tapi Fandi tak punya pilihan lain karena selama ini setiap Fandi ingin dekat dengan Anita, Anita selalu marah-marah dan seolah-olah tidak menginginkan keberadaan Fandi. Dengan hati berdebar ia mulai membuka sampul buku berwarna putih dengan gambar peri cantik yang tengah menikmati indahnya bunga-bunga di taman.
 
Dear Diary
Diary kamu tau gak, aku hari ini seneeng banget, tadi pagi aku and family jj ke kebun binatang, disana aku ngeliat banyak banget binatang buas, tapi tenang udah dijinakin kok, hehe........................
“Gak penting banget sih nie orang buat diary kayak gitu, dasar anak kecil, ngeliat binatang buas aja ampe segitunya. Ckckckc.” Komentar Fandi setelah membaca halaman pertama diary Anita. 

Kemudian ia terus membuka-buka halaman demi halaman, dan kembali ia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan curhatan Anita pada diarynya. Hampir habis ia baca diarymilik  Anita, namun tak ada satu pun cerita tentang dirinya, curahan hati Anita tentang Fandi.
“Kayaknya rugi nih aku ngambil diary tu anak, isinya cuma gini-ginian doang......” Dengan muka yang sangat kusut, bahkan lebih kusut dari jemuran yang belum disetrika Fandi menutup dengan keras diary milik Anita. Tanpa sengaja secarik kertas berwarna merah jambu terbang lepas dari kaitan yang ada dalam diarynya. Fandi meraih kertas itu dan membacanya
 
Dear Diary......
Aku mungkin tak seindah rembulan yang bisa menyinari malam gelap, bahkan aku tak seharum bunga mawar yang mekar indah di taman hatimu. Aku bukanlah bidadari yang turun dari kahyangan yang bisa membuatmu takjub dan mencuri hatimu, tapi aku ingin melakukan itu, aku ingin memiliki hatimu, memiliki separuh jiwamu dan memiliki sebagian hidupmu. Tapi aku sadar aku bukanlah yang kau inginkan, aku tak secantik gadis-gadis yang ada di setiap sudut taman yang kau lihat setiap kau berlari dikala senja, dan aku juga tak seseksi gadis-gadis modis yang sering kau impikan bila kau menonton televisi. Aku hanyalah seorang gadis biasa yang tak memiliki kelebihan yang berarti, aku bukanlah gadis yang bisa kau banggakan dari segi fisik. Mungkin dibandingkan dengan dirimu aku bukanlah apa-apa.
 
Engkau bagaikan sang Arjuna yang senantiasa membawa panah dan pergi ke medan perang dengan gagahnya untuk membela kebenaran, menumpas kejahatan dengan panahmu yang agung. Kau jua bagaikan embun pagi yang senantiasa menyejukkan hati setiap insan, engkau bagaikan cahaya bulan yang selalu ku rindukan, yang selalu ku nantikan untuk menemani malam-malamku yang hampa, yang sepi tanpa dirimu. Fandi, bisakah kau merasakan apa yang ku rasakan? Bisakah kau mendengar rintihan hati ini?

“Puitis juga ya nie anak?” bisiknya dalam hati. “ Anita... Anita seandainya saja kau tahu aku juga memiliki gejolak yang sama denganmu, kau salah telah menganggap kau tak pantas untukku dan aku tak menginginkanmu, tapi taukah kamu aku tak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan semua itu.’’
 
Dengan hati yang bimbang Fandi memutuskan untuk menuliskan perasaannya di balik kertas itu, perasaan yang selamanya mungkin tak dapat ia ungkapkan secara langsung. Sambil menulis ia selalu berdoa agar Anita dapat menemukan tulisannya suatu saat nanti, entah nanti atau kapanpun. Fandi sadar ia tak akan punya banyak waktu untuk menemani Anita, menjailinya, ataupun menyayanginya dari jauh, Fandi juga tak ingin kepergiannya menjadi beban yang tak pernah akan dilupakan Anita.
 
Lama Fandi berfikir dengan apa yang akan ditulisnya, Fandi berusaha keras mengerahkan pikirannya untuk membuat tulisan yang indah yang mungkin akan selamanya berbekas dalam ingatan Anita. “Mmmhh.... akhirnya selesai juga. OK Anita semoga kau bisa menemukan tulisanku ini, bila Tuhan memang menghendakinya kau pasti akan membaca tulisanku ini.” Fandi tak tahu dimana letak awal kertas itu, ia akhirnya menyelipkan kertas itu di tengah-tengah diary Anita, dengan harapan Anita akan membuka dan membacanya.
“Hay Anita.... nie aku balikin diary kamu, apaan itu isinya gak karuan, rugi aku nyuri tahu, hahahha”
“Dasar kamu ya, udah nyuri mana ngetawain lagi, tega banget sih jadi orang!!!”
“Iya....iya maaf. Sekarang aku kan udah balikin diary kamu, maafin ya? Kalau kamu enggak maafin aku sekarang aku yakin kamu bakalan nyesel!”
“Kenapa aku mesti nyesel? Aku gak bakalan maafin kamu Fan!”
“Tapi Nit........”
Belum selesai Fandi berbicara Anita sudah meninggalkannya seorang diri. “Anita, aku padahal ingin pamitan sama kamu... selamat tinggal Nit.” Ia hanya bisa berpamitan seorang diri, tanpa didengar 

Anita.
Keesokan harinya seperti biasa Anita hampir terlambat masuk kelas. Tapi ia merasakan hal yang tidak wajar, tak seperti biasanya Fandi menunggu kehadiran Anita di depan pintu kelasnya, menjaili Anita yang baru saja sampai di sekolah. “Telat mungkin tu anak.” gumamnya seorang diri hanya untuk menenangkan kegelisahan hatinya. Tapi hingga jam pelajaran pertama dimulai Fandi belum juga memunculkan batang hidungnya. Anita gelisah, sangat gelisah, ia takut terjadi apa-apa dengan Fandi. Tidak biasanya Fandi begini kalau dia tidak hadir, setidaknya Fandi pasti mengirim pesan singkat untuk Anita. Tapi sekarang tak ada kabar dari Fandi yang membuat hati Anita semakin gelisah.
 
Pelajaran pun dimulai, seorang guru kimia mengabsen seluruh siswa, sampai pada nama Fandi teman-teman berteriak dari belakang bahwa Fandi telah pindah, ya pindah dari sekolah ini. Bagaikan tersambar petir Anita mendengar keterangan teman-temannya. “mengapa Fandi pindah? Mengapa Fandi tak berpamitan denganku?” segala macam pertanyaan berkecamuk dalam hati Anita, tak ada satu orang pun yang bisa menjawab pertanyaanya. Anita mulai lemas, ia tak bisa membayangkan bagaimana sunyi hidupnya tanpa kehadiran Fandi, kejahilannya, perhatiannya semua yang ada dalam diri Fandi akan selalu dirindukan Anita, walaupun Anita membenci Fandi namun tak dapat dipungkiri ia sangat menginginkan Fandi.
 
Jam istirahat Anita mengambil diary kesayangannya, ia ingin membaca kembali hal-hal yang pernah ia tuliskan di buku hariannya itu. Yang pertama ia cari adalah kertas merah jambu yang menuliskan perasaanya pada Fandi. Namun ternyata kertas yang dicarinya tak berada di tempatnya semula, sudah berulang kali ia membolak-balikkan buku itu, tapi kertas itu hilang. Anita menyerah, ia tutup buku diarynya dengan keras karena kecewa, tak disangka kertas itu terbang dan mendarat tepat di tangan Anita. Tapi yang ia temukan bukanlah tulisannya akan tetapi tulisan tangan orang lain yang juga mengisyaratkan isi hatinya.
 
Anita.....
Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu, aku telah mengambil paksa buku harianmu. Aku tak tahu harus bertanya pada siapa tentang persaanmu padaku, karena jujur aku takut untuk menanyakan hal itu langsung padamu. Aku tak sanggup berkata-kata saat aku berada di hadapanmu. Semua yang aku lakukan padamu 1 tahun belakangan ini adalah ungkapan rasa sayangku padamu, rasa sayang yang mungkin tak kau ketahui Anita.
 
Anita........
Kelamnya langit yang mencekamku saat ini tak mempengaruhi suasana hatiku, hatiku tak sekelam langit diatas sana. Kegelapan yang kuasa menenggelamkan alam tak sanggup menenggelamkan hatiku. Kegelapan yang membatasi indrawi, namun tak membatasi pandangan hatiku. Meski mata ini letih memandangimu, namun hati ini tak akan berhenti mengagumi keindahan wajahmu yang tak tertandingi. Anita, mampukah aku merengkuh tanganmu? Mampukah aku memberi kebahagiaan yang sejati untukmu? Ingin rasanya aku mendekap tubuhmu, membelai lembut rambut dan wajahmu yang ayu, menjadi selimut hangat dikala badai salju menerjangmu, menjadi peneduh hatimu dikala sang mentari terik menyinari tubuhmu. Namun itu hanyalah mimpi, biarlah hati ini yang akan selalu mendekap mesra hatimu dalam untaian mimpi yang tak berpenghuni.
 
Anita......
Sekali lagi maafkan aku, aku tak bisa berpamitan langsung padamu. Aku akan pergi Anita, pergi meninggalkanmu! Mungkin bila Tuhan berkehendak kita pasti dapat bersua kembali. Sampai jumpa Anita, selamat tinggal, aku sangat menyayangimu.....
Fandi Winata
Tak terasa, air mata Anita mengalir begitu derasnya. Tangisan sedih mewakili penyesalannya, mewakili rasa kecewanya. Ingin rasanya ia mengulang waktu untuk dapat bertemu kembali dengan Fandi, mungkin ia tak akan menyia-nyiakan kehadiran Fandi disisinya. Penyesalan tinggallah penyesalan, tangisan Anita tak kan mampu membawa kembali Fandi ke dalam dekapannya, rintihan kalbu Anita tak kan sanggup membawa Fandi kembali bersamanya.

Belum ada Komentar untuk "RINTIHAN KALBU"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel