Recent Posts

ALOFYU (EXTRINITY)

Cerpen Karya Novita Anggraini. K

Assalamu’alaikum wr wb.
Oke teman-teman, aku Novita Anggraini. K yang akrabnya di sapa “Vita” balik lagi dengan sebuah karya yaitu cervel (cerita-novel. Pak Taufik bilang cerpen hanya berkisaran 5 lembar sedang cerpen aku ini udah 14 lembar jadi aku namain cervel aja dehh soalnya udah keluar dari ketentuan. Ini buat seru-seruan aja kok. hahaha) dengan kisah setengah nyata dari kejadian-kejadian yang pernah terjadi di kelas ku (XII IPA 3 SMANSA BENTENG). Bahasa yang digunakan dalam percakapan itu agak kedaerah-daerahan sedikit yah tapi gak susah dipahamin kok. Pokoknya kalian bakal ngerti. Buat temen-temen yang nggak disebut namanya, maaf yah aku nggak sempat selipin tapi tetep kok “We are EXTRINITY more than You Know”. Okede, selamat membaca kalian sahabat-sahabat di sana. Enjoy ! . Salam, VITA

*Vita*
Hai guys, my name is Vita. Kali ini aku akan bercerita tentang “U” dibalik “B” alias “Bercanda tapi Serius” seorang sahabat. OK, perkenalkan Aku adalah salah satu siswa di sekolah menengah atas SMA Negeri 1 BENTENG yang lebih dikenal dengan nama SMANSA BENTENG. Sekolah favorite ku ini terletak di kota BENTENG`, KEPULAUAN SELAYAR. Yah, sekarang aku telah menduduki bangku kelas 3, lebih tepatnya XII IPA 3 yang kata para guru sih adalah masa dimana pendewasaan sekaligus pencarian jati diri berlangsung.

Alofyu (Extrinity) - Cerpen Cinta
Malam ini, seperti biasa aku dan sobat-sobatku sedang mengerjakan PR sekolah di rumahku. Tempat yang paling sering jadi “tempat nangkring” bagi anak-anak EXTRINITY (Exact Three Community/IPA 3). Kali ini, kami hanya bertiga. Aku, Meysti dan Ari.

Entahlah, ini memang hanya sekedar perasaanku atau tidak. Ketika bersama dengan Ari, suasana menjadi lebih seru dan enjoy. Namun, efeknya juga tidak baik, mengapa? Yah, tau sendirilah ketika sudah larut dalam dongengnya, PR tidak beres-beres melainkan terabaikan karena anaknya yang ngenge (cerewet) disertai “dongengnya” yang tak kunjung habis-habis.
“Heii Mey, nu tau ji apa bedamu sama gantungan?” sapa Ari kepada Meysti
“Apa bede?” balas Meysti terlihat sedang serius mengerjakan PR matematika yang diberikan bu Kris tempo hari
“Kalo gantungan, biasa digantung di Hp ji atau di kunci. Kalo kau toh, sudah ditakdirkan digantung di lubuk hatiku” gombal Ari cengengesan
“Aeeee mateeee” sambungku tertawa terbahak-bahak mendengar gombalan mematikan itu
“hahahahaha. Ari, nu tau ji apa persamaan mu sama matematika?” balas Meysti kembali
“Oooo mati mi, mau juga na balas gombalanna itu deng” aku kembali memotong pembicaraan mereka
“Jangko ribut bede Vita. Kau kah” Ari mengisyaratkan kepadaku agar tidak mengganggu proses gombal-menggombal mereka
“Samako. Sama-sama rumit dipecahkan” gombal Meysti terkekeh
“hahahah weh Ari, nu tau ji itu kolam ikan toh? Lama mako di dalam situ berenang” timpalku
“hahaha. Begitu memang ji ces, namanya juga pasangan kekasih. Toh Mey?” kembali Ari bertanya kepada Meysti
“Iyo deh” balas Meysti
“Yah sudah. Weh,kerja mi itu matematika mu sikang. Besok dikumpul mi. Kau Ari” kualihkan pembicaraan
“Woles ja saya men” jelas Ari mengeluarkan kalimat “andalan”nya yang sedari dulu di sertai dengan kata “woles”
“Saing woles mami na bilang. Ikhh, itu mau nu tulis di bukumu ?” timpalku agak kesal
“Selesai ji itu besok men” balas Ari santai
Yah begitulah Ari dan Meysti. Entahlah mereka serius atau bercanda dengan gombalan-gombalan yang tiap hari diseru-seru oleh mereka. Entah di kelas, di rumah dan lain-lain, candaan seperti itu sudah sering terdengar oleh kami. Jadi, tidak heran.

Kamis. Bel istirahat berbunyi, seperti biasa aku, Ippank, Putra, Arfan, Taufik dan Fandi duduk menunggu teman lain dari kantin membawa beberapa snack dan minuman untuk kami palak. Suatu kebiasaan yang buruk juga sih, namun daripada menghabiskan tenaga dan uang lebih baik begini daripada begitu. Hahahah. Kali ini terlihat Meysti dan Ari kembali bercandaan alias gombal-gombalan, kalimat-kalimat yang keluar dari seorang Ari takkan pernah habis. Kalimat-kalimat alay yang menjadi andalan untuk menggaet seseorang yang disukainya. Sedang asyiknya bercanda, tiba-tiba Ippank menghampiri mereka.
“Meysti, nu tau itu panci toh?” sambil menahan tawa, Ippank bertanya kepada Meysti
“Kenapakah?” Meysti balik bertanya
“Lama mako di dalam situ” kali ini tawa Ippank membludak
“hahahaha. Oh jadi saya didongengi ma ini dih?” Mesyti tertawa diikuti yang lain

Kali ini pelajaran terakhir KOSONG. Yessss ! Tahu kan bagaimana gembiranya pelajar di saat jam terakhir dengann kondisi yang sedang ngantuk, lapar dan lemas guru dari mata pelajaran tersebut absen? WOW rasanya, ibarat minum susu ultra + good time. Cemilan yang paaaaling digemari anak EXTRINITY. Hari ini pak Nugrah absen lagi. Okelah, saatnya kembali ke kelas, main laptop, foto-foto, ngemil dll.
“Weh men, ada mau ko ku kasitau” tiba-tiba Ari memanggilku
“kenapa men? Tentang itu?” tanyaku kembali. Akhir-akhir ini Ari memang selalu curhat tentang “DIA”. Seorang gadis yang di odo’-odo’ (diincar)nya selama ini.
“Iyo, siapa lagi. Weh toh, sebenarnya saya serius aa sama dia. Memang ku bawa bercanda ji tapi serius aa sama dia” curhat Ari
“Aiiish biar tidak ii nu bilang ku tau ji saya. Nassa ji. Jadi itu pacarmu la nu apa ii?” balasku
“eh saya toh men, sebenarnya bosan ma sama pacarku. Apa dih? Jarang ja hangout bareng jadi malas ja. Lagian pace (ayah) na kayak tidak ja na setujui. Sepupu ja lagi sama dia, saya toh maksudku ku pacari ii sekaligus ku jaga ii karena keluarga ku ji juga” jelas Ari panjang lebar
“iyo? Ddeh kamase mu tidak direstui. hahaha” balasku tertawa
“Saya toh, tidak ku tau kudi. Ku suka ii itu cewek” sambung Ari
“hahaaha dilema ko dih?” aku kembali tertawa

Sedang asyik-asyiknya aku dan Ari curhat-curhatan, tiba-tiba datang Meysti dari luar.
“Ohh iyo nah Vita, cukup tau ma kudi” kata-kata Meysti membuyarkan cerita di antara kami semua.
“hahaha. Apa kau Mey? Bukan ja penikung bela. Tidak mau ja ikuti prinsipnya Ippank” aku hanya tertawa
“Jangan meko cemburu Mey, bukan ji apa-apa ku cerita ini” balas Ari
“Udah deh udah deh. Betul-betul tidak ada mi yang tersisa dih?” balas Meysti iri melihat yang lain sedang sibuk bercakap-cakap. Bagaimana tidak? Aku setia mendengar curhatan Ari, Riri dan Aji asyik bermain laptop, Alif dan Yaya yang sering-sering kami sapa dengan sebutan Ayah dan Bunda saling gombal-menggombal, Fandy dan Mery terlihat asyik mengobrol, Vian dan Wahda mengerjakan PR matematika yang belum sempat terpecahkan tadi, Ali yang sibuk dengan kegalauannya, Iccank dan Devi juga asyik ngobrol, Pet yang sok akrab menemani Eni yang sibuk browsing mengerjakan tugas, sedang sisanya ada yang ke kantin dan ada pula yang ngobrol di luar kelas. Itulah gambaran jika mata pelajaran sedang tidak terisi.

Malam hari, seperti biasa. Rutinitas ku jika tidak belajar ya online main facebook-an atau twitter-an. Kubuka timeline twitterku, kulihat status seorang yang kukenal dan tak asing lagi bagiku.
@asharihamja : Selamat malam kamu angka 8 :* . Kureply status tersebut.
@Vita_LeafBlues : Aiiishh, pasti angka 8 itu maksudnya huruf M toh ? :D . Tak ada balasan dari Ari.
“Dasar bocah ! reply ku na abaikan” ocehku merasa diacuhkan

Esoknya, kutanya Ari maksud dari angka 8 tersebut.
“weh angka 8 itu M toh maksudnya?” tanyaku penasaran
“Ihh bukan. Itu angka 8 maksudnya “kacamata” gadis berkacamata. Mengerti meko?” jelas Ari
“Ooohh. Hahaha iyo dih. Iya mengerti ma” tawaku mendengar jawaban Ari yang kurasa menggelikan itu karena angka 8 dibaliknya hingga berbentuk “kacamata”.

Hari kamis kembali lagi, saatnya pelajaran Bahasa Indonesia. Kali ini Pak Taufiq akan mengisi salah satu pelajaran yang paling susah dimengerti sehingga tidak terlalu diminati anak Extrinity. Bagaimana tidak? Rasa ngantuk, lapar serta haus menghantui kami. Tak tahulah, “karena memang begitu”. Hahahaha. Kalimat tersebut pernah dilontarkan pak Taufik saat menanyai kami mengapa ketentuan dari Surat Resmi harus seperti itu. Bagi kami, jawaban tersebut adalah jawaban “tak mau susah”, namun harus bagaimana lagi? Beliaulah gurunya, beliau pembimbingnya. Kalau protes bisa bisa nilai Bahasa Indonesia “anjlok turun”.
“Ihh mau hujan, enaknya deh dengar bunyi-bunyi seng” kataku kepada Meysti
“Deh, enakna ini di rumah. Siram + makan mie indomie baru tidur pake selimut” sambung Meysti
“Sebelumnya itu mandi ki dulu baru tidur, pake selimut baru putar musik. Ddeehh, langsung aa ngantuk” kataku kembali sambil menghayalkan hal tersebut benar-benar terjadi

Tiba-tiba Meysti menoleh ke arah belakang, bermaksud mengobrol dengan Ari.
“Ari, nu tau ji persamaanmu sama hujan?” tanya Meysti kepada Ari. Meskipun Ari terhalangi oleh satu bangku sebelum Meysti, yaitu bangku Aji dan Pet, namun obrolan kocak ini tak terelakkan lagi.
“Tidak tau, apakah?” tanya Ari kembali bermaksud ingin digombal Meysti
“Sama-sama jatuh dari langit #Eeeaa” Meysti tertawa
“Nu liat bidadari ii Ari na bilang mu jatuh dari langit? Hahaha” sambung Aji
“Hahaha iya tawwa Aji, bidadari mendarat di selokan” sambungku
“Cobana bilangko apa bedanya kamu sama hujan. Jawabmi nu bilang kalo hujan jatuh dari langit ke tanah. Kau jatuh dari langit ke hatiku. Simple kan?” ajar Aji kepada Meysti dan Ari
“hahaha cuccok aa saya itu” sambung Pet yang dari tadi hanya memperhatikan kami yang sibuk tertawa mendengar canda gombalan tersebut.
“hahaha yah ok. Meysti, nu tau ji bedamu sama hujan?” mulai Ari
“Tidak, apakah?” lanjut Meysti
“Kalo hujan jatuhnya langsung ke tanah, kalo kamu jatuhnya ke hatiku. Hahaha” Ari menuruti perkataan Aji tadi. Kami pun tertawa, benar-benar sweat moment yang akan dirindukan suatu hari nanti.

Bel berbunyi, berarti saatnya bersantai seteleh 2 jam belajar Bahasa Indonesia. Seperti biasa, aku duduk di pintu kelas menatapi kosong ke depan. Tiba-tiba Ari datang dan duduk disebelah ku.
“Men, sudahma bilang ke Meysti kubilang ku suka ko tapi dia apa dih, biasa ji responnya. Benar mi toh yang kulakukan?” tanya Ari di sela lamunanku.
“cocokmi itu men menurutku, lagian mau sampai kapan nu taroh-taroh. Mending palappok (nyatakan) mi toh” kataku membenarkannya

Sepulang sekolah, aku lewat gerbang sebelah timur. Aku berjalan sendiri tanpa ada Mery dan Purnida yang biasa bersamaku. Tiba-tiba Putra berteriak.
“Vita, samaki jalan!” teriak Putra
“yah cepat mako” kataku
“Tunggu aa” balasnya
“Kenapa tidakko sama pacarmu?” tanyaku heran karena biasanya sepulang sekolah, ia pasti berjalan dengan Anti, pacarnya. Namun kali ini tidak. Ada apa?
“Adoh sudah mako cerita itu. Putus ma” jawabnya enteng
“Aiii, iyo? Kenapa bisa?” tanyaku kepo.
“Masa’ jalan ii sama mantan pacarnya” jelasnya singkat
“Ddeehh, sakit to’ ?” balasku meledek
“Iyo, ku telpon ji malamnya. Trus ku tanya ji juga. Jujur ji lagi” sambungnya
“Hah? Baek ji ka jujur ji. Ciee jadi galau ini orang dih?” kataku
“Janganko kasih tau yang lain nah. Ka kau sumur bor ko” kata Putra mengejekku
“hahaha aih sembarang kau nu bilang” kataku hanya tertawa. Entahlah, predikat itu sudah melekat di diriku. Dari baskom hingga sekarang aku disebut-sebut sebagai sumur bor karena katanya sih aku sering membeberkan rahasia seseorang. Sama halnya dengan rahasia “sukanya V ke F”, rahasia tersebut bocor yaahhh karena keteledoranku hingga membocorkannya kepada teman-teman sekelas. Hahahaha, dasar!. Siapa suruh sering curhat kepadaku :D .
Meskipun aku biasa jadi tempat curhat, namun ada kalanya aku yang curhat kepada salah satu diantara teman sekelas mengenai seseorang. Yah, berbagi cerita itu menurutku penting.

Malam kamis, setelah pulang dari belajar di rumah Bu Kris, aku singgah duduk di balai-balai depan rumah Meysti dan bercakap-cakap dengannya. Tiba-tiba, dari arah selatan muncul Ari dan Alif.
“Ihh ku kira tong mi siapa. Ternyata kau ji pale berdua” kataku kepada mereka
“Dari ko mana ?” Meysti bertanya kepada keduanya
“Dari nonton futsal” balas Ari
“Aiiissh apa kamu bilan?” sambungku mengacau sambil berbahasa layaknya Dg. Sirua. Seorang yang istilahnya banyak dipakai oleh anak-anak Extrinity mengikuti trendnnya bahasa ala “Vickynisisasi”.
“Yang dulu itu aku bilan sama kamu baru kamu marah” balas Ari bak Dg. Sirua
Seperti biasa, kami bergurau sambil tertawa. Tak lama kemudian, papah dan mamah Meysti muncul bersiap-siap untuk pergi ke suatu acara di lapangan Pemuda Benteng.
“Meysti, ada ubi di dalam. Bawa keluar nak” sahut mamah Meysti menawari kami ubi goreng. Aku menengok ke arah Alif bermaksud memberi kode. Alif lalu tersenyum “sok imut” sambil menaikkan alis kanannya yang berarti “hal yang paling ditunggu-tunggu akhirnya datang juga”. Aku tertawa terbahak-bahak, kode khusus dari Alif kalau menyinggung soal makanan memang kocak.
Malam telah larut, aku bermaksud pulang namun ditahan Meysti. Aku mengalah, mengulur waktu menemani Meysti yang sendiri di rumahnya. Beberapa puluh menit kemudian, aku dan Alif pamit pulang setelah sekian lama mendesak Meysti membiarkan kami pulang. Akhirnya diiyakan, aku dan Alif pun pulang. Sementara Meysti dan Ari tinggal berdua menikmati game Angry Bird versi terbaru. Entahlah malam itu, apakah Ari mengungkapkan isi hatinya atau tidak? Hanya Meysti, Ari dan Tuhan yang tahu.

Kembali ke hari Kamis, jam pelajaran pertama di mulai. Seperti biasa, PR Matematika ku belum selesai. Aku berinisiatif untuk bertukar tempat dengan Ari. Ari menyetujui, aku duduk dengan Cuplis kali ini, sedang Ari dengan Meysti. Sedang asyik aku mengerjakan PR yang belum sempat ku kerja semalam, tiba-tiba disela-sela keheningan, Iccank berteriak.
“Apa nu kerja kau itu Vita? Kenapa kerja ko Matematika na Fisika ki sekarang?” tanpa basa-basi Iccank berteriak sehingga semua mata tertuju padaku. Tak sangggup membela diri, aku tertunduk malu. Untung saja Bu Syahrini tidak memberiku sanksi.
“Iccank kudi, iyoko nah :/ “ ku kecilkan suaraku dan protes terhadap yang dilakukan Iccank terhadapku.
“Yah, jadi siapa mau kerja contoh nomor 1 tadi?” tiba-tiba bu Syahrini menawarkan kami untuk menyelesaikan contoh soal yang diberikannya tadi
“Saya pi bu” sahutku bermaksud mengerjakan soal tersebut untuk menutupi kesalahanku tadi
Setelah mengerjakan soal tersebut di papan tulis, aku kembali duduk dan kembali mengerjakan PR ku yang tak beres-beres sejak tadi. Samar-samar kudengar pembicaraan antara Iccank dan Cuplis. Bel istirahat berbunyi. Bu Syahrini keluar ruangan. Aku hanya sibuk menulis-nulis. Tiba-tiba kudengar Iccank menaikkan nada bicaranya.
“Pernahko ku katai begitu. Hah?” Iccank berdiri di atas meja
“Kenapako kau?” Cuplis hanya duduk melihatinya
“Kau itu, sembarang na nu bilang. Pernah aa nu dengar bilang begitu ke kau? WTF” Makin lama, emosi Iccank memuncak. Tiba-tiba, “BBBBBUUUKK”. Kaki kanan Iccank tepat mendarat di wajah “kebingungan” Cuplis yang tak tahu harus berbuat apa. Anak-anak lain melerai kontroversi antara mereka yang kini berujung pertengkaran.

Hari Senin, hari tergalau sedunia bagi seorang Fandi. Kali ini dia bertengkar hebat dengan pacarnya, Mery. Tak jelas karena apa, tapi katanya masalah mereka sejak semalam tak terpecahkan karena mungkin saja keegoisan yang berperan dalam penyelesaian mereka. Kami hanya bisa menenangkan keduanya.
“Mery, minta maaf aa nah. Serius aa, liat mataku” bujuk Fandi kepada Mery
“Putus maki” jawab Mery tegas
“Iihh Mery, jangan ko tawwa” sambungku menenangkan
“Ehh berpikirko dulu sebelum bertindak” tandas Ari menambahkan
“Janganko terburu-buru ambil keputusan Mery” kembali aku menambah
“Saya yang jalani bukan kalian” tegas Mery dengan nada tak biasa
“Iyo tawwa” sambung Riri
Tak lama kemudian, Pak Taufik kembali berniat melanjutkan pelajaran yang sempat tertunda tadi karena jam pelajarannya diantarai jam istirahat. Kami berhamburan kembali ke tempat duduk masing-masing dan meninggalkan Mery yang masih dengan emosi tak terkendali. Kali ini, kita membahas tentang puisi lama yaitu pantun.
“Yah ok, jadi siapa yang pertama akan membacakan pantunnya?” tawar Pak Taufik kepada kami
“Saya pak” Fandi mengacungkan tangan
“Iya, silahkan. Di situ saja” perintah pak Taufik
“Jika nanti jadi besar
Jangan suka mencabut padi
Jika ada tingkahku yang kasar
Ku berjanji takkan mengulangnya lagi” alunan pantun yang dilontarkan Fandi secara tidak langsung meminta maaf kepada Mery. Sontak kami pun bersorak + bertepuk tangan.
“Yah Mery, balas cepat” sambung Tery. Namun tak ada tanggapan apa-apa dari Mery.

Lain lagi dengan Pet yang sedang asyik mengobrol dengan Arfan. Aku tertawa dan memperhatikan mereka berdua.
“Oohh jadi CLBK mako ?” tanyaku kepada Pet dan Arfan.
“Sembarang Vita” balas Arfan
“Menyanyi ii Pet untuk Arfan tawwa” sambung Putra
“Oohh, jadi PetAr mi lagi dih?” aku tertawa. Bagaimana tidak? Aku dkk menjodoh-jodohkan mereka berdua sejak kelas 2. Jeruk makan jeruk namanya kalau begini. Hahahah.
Terlepas dari itu, kini Ari terlihat tidak begitu aktif. Mungkin karena ketidakhadiran Meysti dalam pelajaran kali ini yang sibuk latihan Drum Band persiapan karnaval besok.

*Ari*
“Bagaimana dih? Perlu tidak ku bilang perasaanku yang sesungguhnya ke Meysti? Kalo na tolak aa? Bagaimana mi? Aisshhh bingung aa” Aku keliru dan bingung, apa tindakanku selanjutnya?. Apakah benar-benar harus ku ungkapkan secara face to face atau via SMS saja?. Aku benar-benar digeluti kebimbangan kali ini.
Malam minggu, aku bersiap-siap ke lapangan futsal bersama teman-teman satu club, Bintang Timur FC. Kegiatan inilah yang menjadi penenang dalam kebingunganku. Permainan selesai, aku duduk di kursi biru yang panjangnya hampir 2 meter dengan posisi kedua kaki tertelungkup. Ku ambil hape di saku tas hitam kesayanganku, ku klik tombol hapeku. Sekejap aku tersenyum melihat wallpaper yang telah kupasang beberapa minggu lalu. Aku dan seorang gadis berbaju merah, berkacamata, serasi terlihat. Menurut pandanganku sih, entahlah orang lain bagaimana. Tapi yang menjadi pertanyaanku selama ini, gadis berkacamata ini sedang dekat dengan seseorang, “A” namanya. Kebetulan kelasku dan kelasnya bertetanggaan. Apakah isu ini benar atau tidak, aku tak tahu. Menurut pengakuannya, mereka hanya berteman biasa, tak lebih dari itu. Aku juga berharap demikian.

*Vita*
Kembali lagi ke hari Kamis. Yah, Bahasa Indonesia lagi. Malasnyaaaaaa. Ah, ingin berteriak rasanya. Kali ini kita di minta membaca puisi karya orang lain di depan kelas, di depan anak-anak.
“Ayo, siapa kira-kira yang berani naik membacakan puisi ?”
“Saya pak” Ari mengacungkan tangan
“Oke, silahkan”

Ari pun ke depan kelas membacakan puisi. Aku dan anak-anak yang lain hanya terkekeh mendengar puisi yang dibacakan Ari. Puisinya sih bagus, tapi cara membacakannya ituuuuu.. Apa yah? Hahaha. Setelah membaca puisi yang bertemakan cinta, Ari pun kembali duduk.
“Yahh,bagus yah. Puisinya bagus. Bagus sekali tapi intonasinya kurang tepat.” Jelas Pak Taufik
“hahahahaha” serempak kami tertawa mendengar pujian yang berujung kritikan tersebut.
Tak henti-hentinya kami mengolok-ngolok cara membaca puisi Ari yang tergolong kocak dan lucu.
Hari Jumat, kelasku sedang sibuk-sibuknya mengatur persiapan untuk Tata Boga hari sabtu. Pulang sekolah, aku dan teman-teman termasuk Ari ke rumah Nuniet untuk menyiapkan segala sesuatunya dan mengatur seksi-seksi yang berperan dalam dekor dan masaknya. Sedang Meysti sekelompok dengan Yaya CS sedang sibuk-sibuknya juga di rumah Mery menyiapkan segala persiapan mereka untuk acara besok.

Sore hari, di rumah Nuniet kelompokku berkumpul. Aku memulai percakapan.
“Weh Ari, ada mau ku kasitau ko” tanyaku kepada Ari serius
“Apa men?” tanyanya balik
“Na kasitau aa Riri, pacaran meko sama Meymey bede?” tanyaku serius
“Aiii siapa bilang?” Ari ngeles sambil la’ngis (antara senyum dan tertawa)
“Eehh, serius aa tanya ini.” Ku paksa Ari menjawab pertanyaanku
“Atidak. Dongeng ji itu” Ari menjawab pertanyaanku kembali
“Baah, masa tidak nu tau ii Vita” Sambung Wahda
“Saya saja dibelakang ja duduk na ku tau ji” Tambah Purnida
“Iyo, pacaran mi itu Vita. Saya Aji na kasitaua. Cuma tidak nu ji na kasitau ii Ari sama Meysti” Timpal Riri
“Astaga kau Ari ! Cukup tauma saja deh” Aku agak kesal terhadap Ari yang menyembunyikan semuanya kepadaku padahal akulah yang dipercayainya selama ini untuk merahasiakan perasaannya terhadap Meysti.
“eeh tidakji men” Ari mengelak lagi
“Jadi tidakko Ari?” Ancam Riri
“Yah, kau dulu Riri. Pacaran meko sama Aji toh?” Ari bertanya balik kepada Riri
“Iihh tidak” jawab Riri mengelak
“Aii jujur meko” balas Ari
“Jujur meko juga kau Riri supaya jujur Ari” Timpalku agak kesal
“Iyo jujur meko ka pernah ku baca sms mu di hapenya” Jelas Ari
“ddeh Riri jujur laloko. Pacaran memang mi waktu tanggal 21 September samaan aa sama kakak ‘itu’ “ Ku ungkap semuanya di hadapan teman-teman
“Iyo jujur ja. Pacaran ma memang” jelas Riri mulai jujur
“Yah, jawabmi Ari ! “ Kupaksa Ari kembali menjawab
“Iyo, pacaranma” Ari kembali la’ngis dengan muka tak berdosa seakan tak menyadari kesalahannya yang telah melewatkanku untuk tidak memberitahuku segalanya.
“Ihh ini kudi toh pakahussanngna kudi. Sama saya seringna curhat tentang Meysti baru pas pacaran, saya terakhir tau ii. Bagaimana ji?” tuntasku
“Yahh, maaf kodong Vita. Sekarang nu taumi toh? Jadi jangan meko marah bede” bujuk Ari
“12 hari meko pacaran toh sama Meysti?” potong Wahda
“7 8 9 10 11 12. Iyo 12 hari ma” hitung Ari
“Dddehh, kudet aa berarti dihh” aku kembali kesal
“Yah sudahmi Vita. Eh pergiki ke sekolah dekor baek” ajak Nuniet
“Iyo ayokmi daripada bertengkarki gara gara begitu ji” balasku. Kami pun menuju sekolah menghias kelas untuk tata boga besok.
Malam tiba, malam yang tak terlupa dengan segala problem dan kejadian lucu yang terjadi diantara kami. Kami tidur, bermain, bercanda dan makan bersama. Semua terasa lengkap dengan kekompakan kita. Beberapa kejadian lucu terjadi. Meskipun begitu, ada beberapa hal kecil pula yang tidak mengenakkan diantara kami, namun itu bukanlah sebuah penghalang untuk tidak menikmati malam-malam bersama ThePartOfExtrinity. Malam yang akan dikenang jika berpisah nanti dengan mereka, malam yang akan dirindukan di masa tua nanti, malam yang akan diceritakan kepada anak cucu.
Tuhan, senja itu Engkau pertemukan kami dalam suatu wadah sehingga kami dapat menyatu, berkumpul layaknya keluarga dan merasakan hangatnya kebersamaan. Namun, segala kenikmatan yang Engkau berikan kini mulai lenyap seiring dengan penghujung waktu di detik-detik akhir kebersamaan kami.
Tuhan, kami hanyalah tumpukan tulang tertata diselimuti daging yang Engkau berikan. Kami tidak berdaya, kami tidak sanggup untuk keluar dari persoalan ini tanpa kehendakMu. Karena itu, bimbinglah kami, tuntunlah kami, dan berikan kami jalan untuk menghapuskan noda-noda yang terlanjur mengotori kebersamaan kami.
Ya Allah Ya Qabidh, ajari kami untuk mengendalikan keegoisan kami, keras kepala kami dan sikap ingin menang sendiri tanpa memikirkan yang lain. Karena hanya Engkau Yang Maha Membolak-balikkan fakta.
Tuhan, aku mohon padamu juga “Jaga Kebersamaan Kami Sampai Kakek-Nenek. Jadikan kami kelas yang paling kompak dan berprestasi di antara kelas lain. Buat kami sadar betapa pentingnya ‘kebersamaan’ ini dan semoga kami saling mengenang meskipun mungkin suatu saat nanti salah satu di antara kami akan ada yang berpulang lebih dahulu menghadap-Mu”. Hanya Engkau Yang Maha Kuasa, maka kabulkanlah doa kami. Aamiin.

Belum ada Komentar untuk "ALOFYU (EXTRINITY)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel