KURAIH BAHAGIA DENGAN DUKA
Cerpen Karya Ari Setiadi, S.Pd.
Suatu pagi, Kampung Warung Awi—Kecamatan Cililin Bandung dilanda mendung. Pagi yang biasanya disapa senyum sinar Matahari yang keberadaanya masih sembunyi-sembunyi, seolah enggan Matahari itu menunjukan sedikit parasnya untuk memberikan sedikit kehangatan. Hembusan angin dari arah barat menyapu debu dan asap kendaraan. Debu dan asap tersebut berkeliaran untuk mencari tempat singgah yang nyaman di lubang hidung manusia.
Suatu pagi, Kampung Warung Awi—Kecamatan Cililin Bandung dilanda mendung. Pagi yang biasanya disapa senyum sinar Matahari yang keberadaanya masih sembunyi-sembunyi, seolah enggan Matahari itu menunjukan sedikit parasnya untuk memberikan sedikit kehangatan. Hembusan angin dari arah barat menyapu debu dan asap kendaraan. Debu dan asap tersebut berkeliaran untuk mencari tempat singgah yang nyaman di lubang hidung manusia.
Tepat di pintu gerbang sekolah, bergiliran kendaraan umum menurunkan penumpang. Tak lain penumpangnya adalah siswa-siswi SMP Muslimin Cililin. Tanpa menunggu lama, begitu keluar dari pintu kendaraan mereka segera berjalan masuk melalui rahang gerbang dan menuju kelas masing-masing. Tidak lupa mereka membayar ongkos terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian Pak Aries, Guru Bahasa Indonesia di sekolah itu datang. Langsung ia masuk ke ruangan yang telah disediakan untuk para guru di sekolah itu. Seperti biasa, salam silaturahmi dan saling membalas ucapan salam pun terjadi di ruangan tersebut. Suatu hal yang dianggap wajib dilakukan oleh guru atau pun orang-orang yang ada di lingkungan sekolah itu. Namun, hal itu juga wajib kita lakukan di manapun dan kepada siapapun. Karena agama Islam mengajarkan hal tersebut. Ucapan Assalamualaikum wajib kita balas dengan Wa aliaikum salam. Karena ucapan tersebut merupakan suatu doa keselamatan pada orang yang mengucapkan, maupun yang menjawabnya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 86. Yang artinya.
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu(dengan serupa)[327]. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS. An Nisa : 86)
Langit murung. Tampak setiap orang yang ada di sana, mengeluhkan cuaca pagi itu. Kabut keluh di wajah mereka seolah melengkapi mendungnya pagi itu. Bagaimana tidak? Jika hujan turun anak-anak sekolah akan kerepotan di hari esok untuk mengeringkan baju seragamnya. Mayoritas anak sekolah tersebut hanya memiliki satu baju seragam putih biru. Belum lagi, beberapa kelas tidak dapat digunakan jika hujan turun karena atapnya bocor. Sudah beberapa kali itu diperbaiki namun hasilnya tetap sama. Bocor!! . Beberapa guru juga merasakan hal yang sama. Jika genting kelas bocor, mereka pun tidak dapat melaksanakan tugas mengajarnya. Al hasil materi bersih-bersih pun menjadi alternatif. Proposal renovasi telah diajukan kepada Dinas terkait. Namun, sudah berbulan-bulan dan melaju ke tahun belum jua ada kepastian. Sampai kapankah itu? Wallahu a’lam.
Lain halnya dengan Pak Aries. Hari itu cuaca yang mendung ditambah suasana sekolah yang ikut terbawa muramnya cuaca. Tidak mempengaruhinya untuk menambah daftar keluh setiap orang yang ada di sana. Tidak lain, karena hatinya sedang berbahagia. Besok ia akan di wisuda, di resmikan sebagai salah satu cendikiawan Bahasa dan Sastra Indonesia terbaik di Perguruan Tinggi tempat ia menimba ilmu. Apapun suasana pagi itu ia tetap memajangkan senyum di wajahnya. Sehingga ia menjadi orang yang paling berbeda pagi itu.
***
Tet...tet...tetttttttttttt!!!.
Bel tanda masuk telah berbunyi. Seluruh siswa yang tengah berada di luar kelas mulai memasuki kelasnya masing-masing. Demikian dengan para guru yang bermuara di ruang guru mulai bersiap-siap untuk memasuki kelas yang tengah ditunggu sang murid. Cuaca pagi itu tidak berubah. Menit menuju jam, jam melaju ke jam berikutnya, tetapi cuaca tak berubah malah semakin bertambah kelam. Awan hitam kian menyelimuti sang cakrawala hingga tenggelam ditelan sang awan pemarah. Para siswa tampak tidak terlalu terpengaruh oleh cuaca hari itu, tapi kebanyakan dari mereka mengeluhkan cuaca pagi itu. Hingga bel tanda pulang pun terdengar, cuaca tak berubah.
Suara bel tanda pulang itu bunyinya berbeda sekali seperti biasanya. Suaranya terdengar begitu menggelegar karena diiringi suara petir yang memecah kesunyian. Hujan perlahan-lahan mulai turun. Tiap menit semakin bertambah volumenya. Rintik-rintik hujan yang lembut menjadi garis-garis tegas yang membuat setiap insan menahan diri menerobos tebalnya hujan dan memilih menepi kemudian menunggu sampai hujan reda.
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu(dengan serupa)[327]. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS. An Nisa : 86)
Langit murung. Tampak setiap orang yang ada di sana, mengeluhkan cuaca pagi itu. Kabut keluh di wajah mereka seolah melengkapi mendungnya pagi itu. Bagaimana tidak? Jika hujan turun anak-anak sekolah akan kerepotan di hari esok untuk mengeringkan baju seragamnya. Mayoritas anak sekolah tersebut hanya memiliki satu baju seragam putih biru. Belum lagi, beberapa kelas tidak dapat digunakan jika hujan turun karena atapnya bocor. Sudah beberapa kali itu diperbaiki namun hasilnya tetap sama. Bocor!! . Beberapa guru juga merasakan hal yang sama. Jika genting kelas bocor, mereka pun tidak dapat melaksanakan tugas mengajarnya. Al hasil materi bersih-bersih pun menjadi alternatif. Proposal renovasi telah diajukan kepada Dinas terkait. Namun, sudah berbulan-bulan dan melaju ke tahun belum jua ada kepastian. Sampai kapankah itu? Wallahu a’lam.
Lain halnya dengan Pak Aries. Hari itu cuaca yang mendung ditambah suasana sekolah yang ikut terbawa muramnya cuaca. Tidak mempengaruhinya untuk menambah daftar keluh setiap orang yang ada di sana. Tidak lain, karena hatinya sedang berbahagia. Besok ia akan di wisuda, di resmikan sebagai salah satu cendikiawan Bahasa dan Sastra Indonesia terbaik di Perguruan Tinggi tempat ia menimba ilmu. Apapun suasana pagi itu ia tetap memajangkan senyum di wajahnya. Sehingga ia menjadi orang yang paling berbeda pagi itu.
***
Tet...tet...tetttttttttttt!!!.
Bel tanda masuk telah berbunyi. Seluruh siswa yang tengah berada di luar kelas mulai memasuki kelasnya masing-masing. Demikian dengan para guru yang bermuara di ruang guru mulai bersiap-siap untuk memasuki kelas yang tengah ditunggu sang murid. Cuaca pagi itu tidak berubah. Menit menuju jam, jam melaju ke jam berikutnya, tetapi cuaca tak berubah malah semakin bertambah kelam. Awan hitam kian menyelimuti sang cakrawala hingga tenggelam ditelan sang awan pemarah. Para siswa tampak tidak terlalu terpengaruh oleh cuaca hari itu, tapi kebanyakan dari mereka mengeluhkan cuaca pagi itu. Hingga bel tanda pulang pun terdengar, cuaca tak berubah.
Suara bel tanda pulang itu bunyinya berbeda sekali seperti biasanya. Suaranya terdengar begitu menggelegar karena diiringi suara petir yang memecah kesunyian. Hujan perlahan-lahan mulai turun. Tiap menit semakin bertambah volumenya. Rintik-rintik hujan yang lembut menjadi garis-garis tegas yang membuat setiap insan menahan diri menerobos tebalnya hujan dan memilih menepi kemudian menunggu sampai hujan reda.
Detik berganti menit, menit berganti jam. Tapi hujan tak kunjung reda. Aries mulai resah, dan gamang. Bagaimana tidak! Ia harus mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi hari esok. Esok adalah hari yang selama 4 tahun ia nantikan. Perjuanganya, pengabdiannya, kegigihan dan usahanya dalam belajar akan mendapatkan pengakuan berupa gelar seorang dari salah satu dari cendikiawan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia terbaik di salah satu Perguruan Tinggi di Bandung.
Seketika ia terbawa dalam lamunan. Ditemani gemercik air hujan yang turun deras yang dimuntahkan dari langit. Esok, keluarganya akan menjadi saksi sekaligus ia akan membuat bangga mereka dan membuktikan bahwa ia dapat menjadi seseorang yang mandiri dan dapat menyelesaikan kuliahnya tanpa membebani ke dua orang tuanya.
Esok, ibu dan ayahnya akan menggandeng ke dua tanggannya menuju mimbar kehormatan di kampus. Lalu ia akan mencium kaki ibunya, orang tuanya memeluk dia kemudian akan ia katakan di hadapan para peserta wisuda
“Ini aku anakmu, aku persembahkan ini untuk ibunda dan ayahanda”
“Selamat nak! kamu berhasil. Kami bangga padamu. Kau anak yang saleh, kau anak baik.”
“Gunakanlah ilmumu ini untuk segala kebaikan. Jangan kau salah gunakan. Kami mencintaimu nak” Ibunya melanjutkan ucapan sang ayahanda.
Ayah dan ibunya memeluknya. kemudian, ia mencium ke dua kaki mereka. Hal yang selalu ia lakukan ketika Aries mendapatkan kebahagian. Namun jika ia mendapatkan kesusahan, ia akan berusaha menyembunyikan itu dari ke dua orang tuanya. Walau mereka tahu bahwa anaknya sedang mengalami kesulitan, tetapi mereka mau mengerti keinginan Aries yang selalu berusaha membuat ke dua orang tuanya bahagia. Selalu ia ingat ajaran yang selalu ibunya berikan untuk menemaninya dalam menjalani pasang surut hidup.
“Bertakwalah nak! Jika kau mendapat bahagia bersyukurlah, jika kau dapat musibah atau susah bersabarlah. Allah itu menyayangimu dengan caranya sendiri. Berbaik sangkalah padanya.”
Petuah yang sering ibunya tanamkan. Cobaan memang pasti akan sering kita temukan, baik itu sebuah nikmat ataupun sebuah musibah. Namun percayalah Allah telah mempersiapkan pahala besar bagi mereka yang bersabar tanpa batas. Sebagaimana Allah berfirman.
“Sesungguhnya hanya orang-orang uang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas”(Az-Zumar : 10)
***
“Duuuuarrrrrrrrrr!!!!!!,,,,duarrrrrrr!!!! “
Bunyi petir begitu menggelegar. Seketika membangunkan lamunannya. Tetesan air hujan yang masuk dari genting yang bocor, menetes tepat di wajahnya. Kini wajahnya basah. Tampak jelas ia seperti orang yang sedang menangis.
Kini, ia terbangun dari lamunan kebahagiaanya. Lamunan kebahagian itu seketika lenyap, tergantikan oleh sebuah kenyataan yang pahit. Tragedi kecelakaan dua bulan yang lalu telah merenggut nyawa ke dua orang tuanya. Nyawa hatinya, nyawa hidupnya. Orang yang paling ia cintai kini telah tiada.
Lamunan dan harapan menjadi sesuatu yang kosong. Keberhasilan dan penghargaan yang ia dapatkan menjadi sesuatu yang merobek-robek hatinya. Meluluh-lantahkan jiwanya. Jiwanya terombang-ambing di lautan duka.
“Untuk apa semua ini, untuk apaaaa!” lirih perih dalam hatinya bergejolak.
Ke dua kaki yang selalu ingin ia cium, kini hanya segunduk tanah merah tanpa suara. Pelukan hangat yang selalu ayah dan ibunya berikan, kini hanya sebongkah batu nisan bertuliskan nama.
“Ya Allah, mengapa kau tidak memberiku kesempatan untuk membahagiakan mereka?”
“Mengapa kau tak beri aku kesempatan untuk ku menunjukan, berbahagianya aku sekarang?” Lirihnya dalam hati.
Ia sadar, bahwa setiap manusia yang hidup pastilah akan bertemu kematian jua. Begitupun dirinya. Namun kita tidak tahu kapan? dimana? Ajal kita akan dijemput.
“Innalilahi wa innalillahi rojiun” (datang dari Allah dan kembali padanya)
Hujan masih deras. Setiap orang yang tengah berada dekatnya saat berlindung dari hujan, kebanyakan adalah murid-muridnya yang sedang menepi menunggu hujan reda—tak menyadari bahwa ia sedang menangis. Tetasan air hujan yang menetes tepat ke wajahnya membuat orang tidak dapat membedakan yang mana air mata.
Tapi tidak dengan muridnya yang satu itu. Salah satu murid terbaik di sekolah itu.
“Bapak kenapa? “ tanya Nurfalah padanya.
“Memangnya Bapak kenapa Nur?
“Bapak menangis, ada apa Pak? Tapi maaf Nur lancang.”
“Bapak gak apa-apa Nur, seperti menangis ya. Inikan hujan Nur!” Arie mencoba menutupinya.
“Saya yakin, itu bukan air hujan yang menetes ke wajah Bapak, tapi itu air mata Bapak!”
Nampaknya sulit bagi Aries untuk mencoba menutupi kesedihannya pada muridnya yang satu itu. Nurfalah terus mendesak ingin tahu, seolah tengah merasakan apa yang dirasakan Aries – Nurfalah menatap dengan mata sayu, keningnya mengerut. Raut kecemasan nampak di wajah mungil itu. Bagaimana tidak, ia sudah menganggap Pak Aries sebagai orang tua ke dua baginya.
Garis-garis tebal hujan kembali menjadi rintik-rintik. Beberapa menit kemudian menjadi butiran embun. Hujan deras telah reda. Saat yang tepat untuk Arie memotong pembicaraan.
“Allhamdulilah, hujanya reda Nur!” “ Bapak duluan ya, Assalamualaikum.”
“Wa..wa allaikum salam..” menjawab salam Pak Arie.
Matanya terus memandangi punggung Pak Aries dari belakang melewati pintu gerbang yang semakin lama semakin jauh dan terlihat mengecil, kemudian menghilang di sebuah belokan jalan raya. Hatinya merasakan nuansa yang tidak seperti biasanya pada diri gurunya itu. Guru yang selalu tampak ceria, kalem, dan bersahaja kini selalu tampak murung. Setelah itu ia pun beranjak pulang meninggalkan sekolahnya.
***
Suasana di area kampus sudah sangat ramai pagi itu. Padahal, waktu masih menujukan jam 05.30 WIB. Sengaja Aries datang lebih awal supaya dapat parkir di dalam area kampus. Namun kenyataan berbeda, pagi buta area parkir dalam kampus sudah penuh dan sesak. Area kampus STKIP Siliwangi Bandung yang begitu luas hari itu menjadi terlihat menyempit. Karena dipenuhi mobil, motor dan juga para keluarga yang sudah berada di sana sejak pukul 05.00 WIB pagi. Apa boleh buat, ia terpaksa parkir di area Fakultas Kedokteran Unjani –yang jarak dari sana ke area kampusnya cukup jauh. Setelah memarkirkan kendaraannya, ia berjalan menuju Aula Kampus tempat acara wisuda di gelar.
Sesampainya di gerbang, begitu terperanjatnya ia. Melihat begitu banyak, sesak, orang di dalam area kampus. Untuk sekedar berjalan saja rasanya cukup sulit. Pantas saja, seluruh keluarga ikut untuk mengantar serta menyaksikan anaknya, istrinya, dan siapa saja yang di wisuda waktu itu. Ketika Aries berjalan menuju Aula Kampus, tampak di pinggir-pinggir kelas berjejer para tukang Photographer yang biasa hadir jika ada acara-acara seperti ini. Tampak terlihat sangat sibuknya para tukang poto itu, karena banyak sekali para peserta wisuda yang tak mau melewatkan moment untuk mengabadikan saat-saat bersejarah bagi mereka dengan keluarganya tercinta. Al hasil, tukang poto pun kebanjiran order. Aries hanya tersenyum miris melihat hal itu dan terus bergerak maju menuju pintu Aula yang menunggunya.
“Bahagianya mereka” gumamnya dalam hati.
Megah, luas, dan takjub. Hal itu yang ia saksikan ketika masuk ke dalam Aula STKIP Siliwangi Bandung. Panggung dan podium yang gagah di sisi kiri—kanan berjejer meja kehormatan untuk para Rektor, Guru besar, dosen-dosen, dan para tamu undangan. Di bawahnya, berjejer kursi-kursi bernomor yang sudah penuh diduduki oleh masing-masing peserta wisuda sesuai dengan nomor kursinya. Nomor 531 adalah nomor tempat duduk Aries. Ia mencari-cari kursi bernomor 531, hingga beberapa menit kemudian ia menemukan kursinya yang berada paling belakang. Di depannya kursi nomor 521 terlihat masih kosong. Entah siapakah yang akan duduk di kursi itu. Ia pun duduk dan menunggu acara dimulai.
Semenit kemudian, datanglah Ridwan ke arahnya. Dia adalah teman satu jurusan Aries tetapi tidak pula bisa dikatakan teman, karena ia lebih cendrung memusuhi Aries dan sering membuat ulah padanya. Tak lain penyebabnya adalah karena Aries sering dipuji para dosen dan teman-temannya karena ia sangat jenius. Sedangkan Ridwan adalah cucu dari Rektor tempat ia kuliah. Ridwan ingin lebih dihargai oleh teman-temanya. Namun, sikap arogan yang sering ditampakannya membuat temannya agak minder berkawan dengannya.
Kini ia menuju ke arah Aries dan memperlihatkan wajah sinis padanya. Ternyata kursi nomor 521 adalah kursi Ridwan. Ridwan pun duduk, namun menoleh terlebih dahulu ke belakang dan memberikan senyum kecut padanya.
“Sory kawan, kasihan sekali kau!” ucapnya dengan nada sinis.
“Maksudmu apa?” jawab Aries dengan mengerutkan keningnya.
“Kabarnya orang tuamu mati ya? Dan sekarang penghargaan sebagai siswa terbaik harus pupus juga, ha ha” ia melanjutkan perkataannya.
“Apa maksudmu?” ia tetap berusaha sabar mendengar ucapan Ridwan yang sangat merobek hatinya, ia tidak mengerti maksud Ridwan berkata demikian.
“Kau pun tahu Ries? Aku cucu dari Rektor Perguruan Tinggi ini! Jadi mudah saja bagiku untuk melakukannya” ia berkata dengan ringannya kemudian membalikan badannya kembali ke depan.
Hatinya hancur mendengar apa yang telah diucapkan Ridwan. Namun, harus bagaimana lagi? Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bagai kerikil di antara bebatuan besar. Kecil dan tak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkannya pada Sang Pemurah, Sang Maha Adil, Sang Maha Perkasa dan Penguasa, Maha Pemurah , Dialah Allah SWT. Ia serahkan semuanya pada Ilahi Robbi. Tawakal adalah jalan satu-satunya bagi Aries.
***
“Assalamualaikum, Wr Wb. Salam sejahtera untuk kita semua!”
Semua mata tertuju ke arah suara berasal. Sang pembawa acara telah mengucapkan salam tanda acara akan dimulai. Mukadimah, dan sambutan-sambutan pun saling bergantian disampaikan oleh orang-orang terpenting pada acara itu. Wejangan, ilmu, amanat, dan ucapan selamat dari mereka disampaikan kepada seluruh peserta wisuda. Tak terkecuali kepada para orang tua peserta wisuda, mereka memberikan selamat atas kesuksesan anak mereka mendapatkan gelar sarjana. Setelah itu rehat dan mendengarkan lagu sendu yang dibawakan oleh paduan suara Mahasiswa STKIP Siliwangi Bandung. Lagu Hymne Guru dan lagu daerah.
***
“Baiklah para hadirin semuanya.!” kembali pembawa acara melanjutkan acara selanjutnya.
“kita lanjutkan kepada acara yang sangat dinanti. PENOBATAN MAHASISWA TERBAIK STKIP SILIWANGI BANDUNG ANGKATAN 2011. Jatuh kepada....?”
Setiap orang yang berada di ruangan itu saling berpandangan, saling menoleh dengan teman duduknya dan saling menebak, kira-kira siapa yang terpilih itu. Ada juga yang hanya diam berharap-harap cemas, semoga dirinya yang terpilih. Ada juga yang hanya tertawa miris, memastikan pasti bukan dirinya. Namun Aries hanya duduk diam, seolah tidak terpengaruh dengan suasana yang sedang terjadi di ruangan itu. Rasanya hal yang sulit bagi dia untuk tersenyum. Baginya, siapapun yang terpanggil ia adalah orang yang sangat beruntung dan hebat.
Keheningan terjadi sesaat sang pembawa acara menentukan detik-detik penentuan siapakah yang mendapatkan penghargaan itu.
“Aries Setiawan Dodi, S.Pd!.........” terdengar suara yang memanggil nama lengkapnya.
“Sekali lagi saya panggil, Aries Setiawan Dodi, S.Pd!. dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Selamat! Padanya. Beri tepuk tangan!” kembali sang pembawa acara memanggil namanya.
Riuh tepuk tangan pun bergemuruh di dalam ruangan itu. Orang-orang di luar gedung Aula mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Aries berusaha mengangkat tubuhnya yang terasa berat. Rasa tak percaya, bahagia, kaget bercampur menjadi satu. Membuat tubuhnya menjadi gemetar dan lemas mungkin sedikit shock karena sungguh di luar dugaannya. Dengan langkah pelan namun pasti, ditemani dengan gemuruh suara tepuk tangan dari seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu Aries berjalan menuju podium kehormatan itu. Ia pun memberikan sambutan.
Setiap mata orang di dalam ruangan itu tertuju padanya. Tak terkecuali Ridwan, seolah tidak percaya ini terjadi. Ia sudah meminta kakeknya yang tidak lain adalah Rektor Perguruan Tinggi tersebut agar dirinya lah yang mendapatkan pernghargaan itu menggantikan Aries. Namun ternyata kakeknya tersebut adalah orang yang bijak dan tidak mau menuruti permintaan Ridwan yang sangat keliru. Al hasil Ridwan pun tertunduk malu.
Beberapa menit kemudian. Aries menutup sambutannya diikuti oleh gemuruh tepuk tangan yang dipersembahkan padanya. Ia turun dari podium kehormatan itu dan disambut standing aplause dari seluruh orang di ruangan itu. Kemudian setelah itu dilanjutkan ke acara pelantikan, kemudian doa dan penutupan.
Acara telah usai. Pintu gerbang aula pun terbuka. Tampak di luar pintu aula para orang tua tercinta tengah menantikan untuk memberikan bunga dan memeluk anaknya yang keluar dari pintu aula itu. Para peserta wisuda pun keluar. Dan benar sekali, terlihat sambutan yang hangat, ucapan selamat, bahkan pelukan yang diberikan pada mereka. Betapa bahagianya mereka. Aries hanya melihat mereka yang berbahagia sambil tersenyum. Ia turut ikut merasakan kebahagian yang teman-temanya rasakan. Walaupun agak sulit karena ia tidak seperti teman-temanya yang disambut keluarganya.
“Selamat ya kawan-kawan” ucapnya dalam hati kepada teman-temanya.
Ia berjalan menusuri kerumunan orang yang memadati area kampusnya. Ia terus berusaha keluar menuju gerbang pintu keluar untuk langsung bergegas pulang. Ia menyelusup di antara kerumunan orang. Sampai akhirnya ia dapat lepas dari kerumunan itu.
“Alhamdulilah Ya Allah.... akhirnya keluar juga” ucapnya dengan perasaan lega.
Ia menoleh terlebih dahulu ke arah kampusnya sebelum ia keluar dan pergi meninggalkan tempat di mana ia dididik, dilatih, dan diajarkan ilmu pengetahuan yang tak ternilai harganya dari para dosen tercinta.
Setelah melihat lama dengan lekat-lekat kampus tercintanya, ia segera membalikan badannya kembali untuk menuju ke tempat di mana ia memarkirkan kendaraanya.
Tiba-tiba ia terperanjat. Ia kaget. Di hadapannya tengah berdiri wajah yang tak asing. Wajah yang selalu ia lihat dalam sanubarinya. Wajah itu adalah Nurfalah. Ia datang tidak sendiri. Ia datang bersama ayahnya.
“Assalamualaikum?” suara itu mengucapkan salam.
“wa..walalikum salam. Nufalah sedang apa di sini?”
“Saya dan ayah sengaja datang ingin melihat wisuda Bapak, dan sekaligus kami ingin langsung mengucapkan selamat pada Bapak”
Tersentuh hatinya. Ia tak bisa mengatakan apa-apa selain ucapan
“Terima kasih Nur, Pak Eko atas kesediaannya datang kemari, sa..saya bingung harus berkata apa. Selain ucapan terima kasih” dengan suara sedikit parau.
Tak sadar air mata Aries menetes ketika mengucapkan itu pada Nurfalah dan ayahnya. Andai orang tahu saat itu betapa bahagia dan terharunya ia. Ia kini merasa tak sendirian. Kemudian, ayahanda Nur memberikan pelukan dan ucapan selamat serta mengatakan agar ia sabar dalam menghadapi apapun yang di takdirkan padanya. Karena sesungguhnya ada hikmah di balik setiap duka. Ia tumpahkan segala suka dan duka di dekapan pelukan ayahanda Nurfalah.
Berselang beberapa menit kemudian, Aries terperanjat. Tiba-tiba Ridwan sudah tepat berada di hadapannya. Ridwan menatap wajahnya dengan tajam, kemudian.
“Maafkan aku Ries! Aku menyesal, aku salah padamu” ia memeluk Aries dan mengucapkan penyesalan atas perbuatannya yang salah selama ini.
Ridwan menyadari setelah apa yang telah terjadi tadi. Ia menyadari usaha adalah cara paling baik untuk mendapatkan hasil, bukan dengan cara menyalahgunakan kekuasaan yang sering ia lakukan.
Hari itu, ada setitik kasih yang Allah berikan pada Aries, Walau semua didapatnya dengan sebuah kesabaran atas duka yang ia rasakan.
Belum ada Komentar untuk "KURAIH BAHAGIA DENGAN DUKA"
Posting Komentar