Recent Posts

RAHASIA CINTA TUHAN PART. I

Cerpen Karya Yuva Mega Pratiwi

Sebut saja aku Metta . Aku adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang sedang berlibur akhir pekan di rumah sepupuku. Namanya Desti . Dia memang sepupu yang paling bisa mengertiku , tak heran kalau aku menjadikannya sebagai teman curhat tentang semua hal yang menimpaku :D
“ Des , besok kita jala-jalan ya . Sekedar nyari udara pagi , aku udah lama ngga ngeliat daerah sini .” ucapku saat makan malam.
“Kemana kak ?” tanya Desti pengen tau . Oh ya , Desti masih berada di bangku SMP dan wajar jika dia memanggilku kakak .
“Ke sungai yang deket hutan itu lho . Aku kan bentar lagi kuliah , jadi untuk sekedar bernostalgia aja . Mau ya ?” jawabku sambil merengek seperti anak kecil .
“Hhehehe .. Oke deh kak. Tapi bangunin aku ya ?” pintanya tertawa.
 
Aku mengangguk senang . Hahhh .. tak sabar menunggu hari esok .
*****

Kriinggg..Krinngggg ….
Suara alarm jam membangunkan tidurku . Aku berusaha bangkit dan mengusap kedua mataku yang masih setengah sadar itu . Kulihat jam menunjukkan pukul 04.30 WIB.
“Des .. Desti .. Bangun dong. Udah pagi . Katanya mau jalan-jalan ..” ucapku membangunkan Desti .
“Kak , masih jam segini. Sama mama ntar ngga boleh lho. Masih gelap juga nih..” tolaknya kembali tidur.

Hmm , bener juga sih. Aku pun keluar kamar dan segera melaksanakan kewajiban pertamaku hari ini , yaitu sholat subuh.
Begitulah suasana di rumah tanteku itu. Rumahnya yang terletak di kaki gunung membuatku merasa betah. Apalagi dulu waktu kecil aku sering sekali menghabiskan waktu disini.
“kak kakak .. ayo berangkat ..” ajak Desti tiba-tiba.
“Lho , udah bangun ?” tanyaku terkejut.
“Iyalah kak. Barusan si Rama telepon aku , katanya dia mau ikut juga.” Jawabnya ketawa.

Aku baru ingat. Rama adalah teman masa kecilku dulu dan aku sudah lama tak bertemu dengannya .
“Rama mana ?” tanyaku histeris .
“Dia nunggu kita di sungai kakak . Katanya ada yang mau dia bicarain sama kakak ,” jawab Desti padaku.
“Hah ? mau ngomong apaan ?” tanyaku sambil merapikan rambut.
“Tak taulah ..” jawabnya tertawa.
“Ayo berangkat ..” ajakku menarik lengan Desti .
*****

Pagi ini terlihat begitu cerah. Meskipun matahari belum menampakkan seluruh sinarnya ke penjuru dunia namun kilatan cahayanya sudah menyebar ke berbagai sudut.
“Kapan ya aku terakhir kesini ?” tanyaku sambil memandang sekelilingku.
“Lupa aku kak , lama pokoknya.” Jawab Desti sambil memainkan ponselnya.

Aku terdiam .
“Kak , kok banyak cowok disana. Kita lewat mana nih ?” tanya Desti menunjuk pada empat cowok yang sedang bercanda . Jaraknya memang tak begitu jauh dariku dan desti.
“Ya lewat sinilah. Emangnya jalan ini punya mereka ? udahlah , cuek aja ..” jawabku tak peduli.

Begitu melewati , salah seorang dari mereka menyapaku .
“Mau kemana mbak ?” tanya cowok yang berkaos putih itu dengan tersenyum.
“Hm , ma..mau kesitu .” jawabku mendadak grogi.

Desti menyenggol lenganku pelan. Aku tersadar , jawabanku ngga karuan begini sih.
“Mau ke suatu tempat tuh mereka .” sahut temannya yang berjaket hitam .
Aku tak menyahut dan mempercepat langkahku .
“Kak , jawabanmu payah tadi. Hahhaha ..” ucap Desti mengejekku.
“Yee , aku ngga sadar itu. Lagian cowok tadi punya senyum yang khas banget. Bikin aku merinding.” Sahutku tertawa juga .

Kita pun melanjutkan perjalanan dan ternyata oh ternyata . KEEMPAT COWOK ITU MENGIKUTI KITA.
“Sapa sih mereka ? Kayaknya bukan orang sini deh.” tanyaku heran.
“Iya kak , kayaknya bukan. Liat aja tuh cara berpakaian mereka. Mirip boyband.” jawab Desti kembali membuat urat bibirku terangkat lebar alias tertawa.
“Rama mana ?” tanyaku teringat dia.
“Dia udah di sungai kakak . Ayo cepet ..” jawab Desti menarikku.
“Duduk disini dulu ya . Aku capek ..” ucapku tak memperdulikan Desti dan duduk di bebatuan .
Desti pun setuju dan dia mengotak-atik ponselnya lagi.

Tiba-tiba keempat cowok itu berjalan menuju kita. Degg , aku mulai ngga karuan. Dalam hatiku aku hanya bisa berharap mereka ngga macam-macam dan ngga ngajak aku ngobrol lagi. Aku hanya bisa menunduk melihat mereka melewatiku tanpa bicara sepatah kata pun . Akhirnya aku bisa menghela napas lega.
“Hei kak , kita ngga jadi ke sungai ya. Ayo kita ikuti mereka berempat. Aku penasaran deh sama mereka khususnya yang pake baju putih tadi.” Ajak Desti tiba-tiba.
“Apa ? Desti, kita ini ditungguin Rama . Gimana sih ?” tolakku marah.
Desti tak peduli . Kita pun berjalan dibelakang keempat cowok tadi . Namun untuk menutupi gengsi , aku berpura-pura aja memotret sana sini.
“Kak , Rama udah pulang. Dia barusan sms aku .” ucap Desti tiba-tiba.
“Lho , gimana sih dia ?” tanyaku heran.

Desti hanya bisa terdiam .
Kulihat sekumpulan anak kecil melewati kami dengan tatapan aneh.
“Aahh , cuma anak-anak..” batinku dalam hati .

Empat cowok itu sedang duduk di tengah jalan. Untung jalan ini sepi , jarang sekali kendaraan yang berlalu lalang disini .
“Kak , cowok baju putih tadi cakep .” ucap Desti tertawa sendiri.
“Huss , kamu masih kecil.” sahutku mengejek.
“Mbak biru.. mbak biru ….” teriak seorang anak kecil mendekatiku.

Hah ? Aku dipanggil mbak biru ?
“Sapa ?” tanyaku sok polos.
“Ya kamu mbak , yang pake serba biru.” teriaknya lagi . Uupss , aku baru sadar. Semua yang aku kenakan memang serba biru. Mulai dari baju , celana , jaket sampai aksesoris seperti gelang dan sandal pun berwarna biru. Hihihihi ..
“Eh , ada apa ?” tanya Desti jutek .
“Mbak namanya siapa ?” tanya anak kecil itu padaku .
“Aku Metta.” Jawabku singkat.

Tiba-tiba dia pergi dan berlari menjauh. Aku dan Desti jadi kikuk sendiri. Beberapa detik suasana menjadi hening .
“Hahahahahaha ..”
Suara tawa Desti mengejutkanku.
“Kenapa ?” tanyaku bingung.
“Anak tadi itu disuruh empat cowok tadi kak . Hahahahaha” jawab Desti padaku.
“Apa ? Ng..ngga mungkin lah . Sok tau kamu .” sahutku kaget.
“Ngga percaya. Kita liat ntar ya .” ucap Desti terlihat menahan tawa.
“Iihh , yaudah. Kita ke sungai aja yukk..” ajakku berjalan cepat menuju sungai. Terlihat Desti berlari mengimbangi langkahku .
*****

Sungai ini adalah sungai dengan air yang jernih. Terletak di dekat hutan yang dulu sering aku jadikan markas besarku sewaktu aku masih SD. Tak ada perubahan sama sekali dari tempat ini , yang berubah justru aku (tambah dewasa maksudku :D).
“Kak , bentar ya. Aku mau ke temen-temenku dulu.” ucap Desti berlari menjauh dariku.
Aku melihat ada dua orang gadis remaja SMP yang sedang melambaikan tangan ke arah Desti.

Sambil menunggunya , aku duduk di atas batu besar . Menyanyikan lagu kesukaanku sambil menikmati udara disini.
“Hai ..” sapa seseorang di belakangku.

Aku menoleh dan kulihat cowok baju putih itu berdiri berdecak pinggang sambil tersenyum kepadaku . Spontan aku terkejut .
“Kok diem sih ? aku temenin ya ?” ucapnya lagi SKSD.
Aku bingung. Kulihat tiga temennya tadi sedang ngobrol dengan Desti plus temen-temennya. Dan di sungai ini hanya ada kita berdua , Aku dan cowok ini .
“Halooo.. Nona biru ..” sapanya dengan memberikan tekanan pada pengucapannya.
Sebelum aku memberikan respon kepadanya , dia meloncat ke batu yang sedang aku duduki. Sialnya , dia terpeleset sewaktu mendarat di batu itu dan membuatku terjatuh ke dalam sungai. BERSAMA DIA !

Byuuurrrrrr …
Suara itu membuat Desti dan yang lain menoleh. Mereka tercengang namun gelak tawa menghiasi tempat itu.
“Sorry sorry. Aku ngga sengaja. Maaf ya ,” ucapnya meminta maaf. Aku hanya menahan amarah dan segera naik ke atas batu lagi diikuti cowok itu.
Lagi lagi sial. Sekarang yang terpeleset justru aku dan tak sengaja terjatuh. BERSAMA DIA LAGI !

Gelak tawa menjadi dua kali lipat dari semula dan amarahku semakin menjadi-jadi.
“Kamu gimana sih. Udah buat aku basah kuyup kayak gini. Nyebelin banget..” ucapku marah padanya.
“Kita impas …” ucapnya tersenyum.

Impas ? OMG , jelas ajalah. Dia membuatku terjatuh dan aku juga buat dia terjatuh.
“Nyebelin ..” ucapku lagi.
Dia tak menghiraukanku dan segera naik ke atas batu.
“Ayoo..” ucapnya mengulurkan tangan. Dengan terpaksa aku menerima uluran tangan itu dan berhasil berdiri di atas batu .
“Maaf ya Metta .” ucapnya meminta maaf.
Hei , dia kok tau namaku ?
“Jangan diem aja dong. Aku tau namamu dari anak kecil tadi.” perjelasnya tersenyum.
“Ciyee..ciyeee..” teriak Desti tertawa.
Aku hanya mengacungkan tinjuku padanya.
*****

“Metta itu sodara kamu ?” tanya cowok berjaket merah kepada Desti.
“Iya kak. Kebetulan dia liburan , makanya kesini.” jawab Desti SKSD juga. -_-
“Dia masih sekolah ?” tanyanya lagi.
“Iya . Eh , kakak kakak ini bukan orang sini kan ?” tanya Desti pengen tau.
“Iya . Aku sama temen-temen kesini liburan juga.” jawabnya nyantai .
“Eh kak , kenalin aku Desti.” ucap Desti mengulurkan tangan .
“Aku Rey . Ini Chiko dan ini Lukki. Nah , kalau yang sama Metta itu namanya Brian.” sahut Rey ramah.
“Salam kenal ya..” sahut Chiko dan Lukki bersamaan. Desti hanya tersenyum.
Sementara itu ………..
*****

“Kamu sapa sih ?” tanya Metta penasaran.
“Kenalin , aku Brian. Aku liburan disini , eh kebetulan ketemu sama kamu Met ,” jawab Brian tersenyum.
“Iihh , sok kenal banget nih cowok ..” batinku mulai ilfeel.
“Aku harus pulang. Maaf ya,” ucapku berdiri.
“Hei , tunggu Metta. Aku pengen..” sahutnya terputus. Aku segera berlari meninggalkan tempat itu dan segera pulang.
“Metta kenapa ?” tanya Chiko pada Brian yang kelihatan gelisah.
“Marah dia ..” jawab Brian singkat.
“Tenang aja kak , ntar aku ngomong sama kak Metta. Kakakku yang satu itu emang kelihatannya cuek , tapi sebenernya ngga. Dia cuma ngga kenal aja ,” sahut Desti ramah.
Semua mendesah pelan.
*****

Sampai dirumah aku segera membersihkan diri dengan tanda tanya yang memenuhi otakku.
“Kak , kakak kenapa ?” tanya Desti tiba-tiba muncul di hadapanku.
“Huu , tuh cowok sapa sih . Nyebelin banget ..” jawabku kesal.
“Udahlah kak , kan tadi kak Brian udah minta maaf. Lagian mereka cowok baik-baik kok. Eh kak , tadi aku ngasih nomor hapenya kakak ke dia. Hehehe..” ucap Desti tertawa.

WHAT !! Apa-apaan nih anak. Ngapain juga nomor hapeku disebarin sama cowok dari planet nyebelin itu. Dengan muka yang merah , aku meninggalkan Desti .
“Kenapa kamu Metta ?” tanya tanteku di dapur.
“Gapapa te ,” jawabku cuek . Tiba-tiba handphoneku berdering. Nomor *********55 meneleponku .
“Halo..” sapaku pelan.
“Hai Met. Aku Brian ..” ucapnya pelan.
“Eh , ngapain kamu telepon aku ?” tanyaku terkejut.
“Ya gapapa. Save nomorku ya. Dahhh Nona Biru …” jawabnya dan langsung mengakhiri obrolan singkat itu.
“DESTI …………………….” teriakku marah .
“Kenapa sih kak , teriak-teriak gitu?” tanya Desti cemberut.
“Gara-gara kamu nih , dia telepon aku ..” jawabku marah.
“Haduh kak . Gapapa dahh. Dia cakep lho. Anak band juga , kayaknya sih baik. Ayolah kak , daripada pacarmu itu mendingan dia deh. Sueerrr ..” sahutnya yakin.
Kenapa sih dia ngingetin aku sama pacarku ? Jahat banget . Lagian aku udah lupa sama dia . Airmata ini menetes perlahan .
“Kak , maaf . Bukannya aku mau ngingetin kakak sama pacar kakak ,” ucap Desti menyesal.

Aku tak menyahut. Aku berlari keluar rumah namun hampir bertabrakan dengan Rama.
“Hei , untung ngga nabrak ..” ucap Rama kaget.
Aku hanya terdiam .
“Kenapa kamu ?” tanya Rama lagi .
“Kakak patah hati ..” jawab Desti dari belakangku.

Tanpa babibu dan tanpa aiueo dia menarik tanganku dan membawaku keluar rumah.
“Kemana Rama ?” tanyaku pasrah.
“Bentar , aku mau bicara .” jawab Rama ketus. Uupss , dia marah sama aku !!
Sesampainya di sebuah gubuk , dia berhenti dan melepaskan tanganku.
“Aku pengen denger ceritamu tentang pacar kamu itu ..” ucap Rama masih ketus.

Aku baru ingat. Dari dulu , Rama adalah teman curhatku selain Desti. Aku sering cerita dengannya , tapi terakhir aku curhat setahun lalu . Saat aku bercerita sedang jatuh cinta dengan seorang kakak kelasku dulu.
“Rama .. ngga ada apa-apa kok. Beneran ..” ucapku menunduk.
“Bohong ! Aku kenal kamu ngga satu tahun dua tahun .” sahut Rama padaku.
“Rama , beneran . Aku cuma ada sedikit masalah aja sama pacarku , tapi ntar juga selesai kok. Cuma salah paham aja.” ucapku meyakinkannya.
“Yaudah , aku percaya.. “ ucapnya terpaksa.
Maafkan aku Rama. Aku terpaksa berbohong. Aku hanya tak mau membahas masalahku . Biarkanlah saja masalahku menjadi masalahku. Aku hanya tak mau terlihat selalu lemah di depanmu.
“Met , jalan-jalan yuk ..” ajak Rama tiba-tiba.
“Hah ? Ke..kemana Rama ?” tanyaku terkejut.
“Ke markas kita . Udah lama kita ngga kesana bareng .” jawabnya tersenyum.

Markasku dan Rama itu terletak di dekat sungai. Ahh , sungai itu ! Jadi trauma gara-gara kemarin . Ingatanku kembali kepada Brian . Kenapa ingat dia !!!
“Kenapa kamu Met ?” tanya Rama pengen tau .
“Gapapa . Sedikit pusing aja ,” jawabku tersenyum .
*****

“Metta ..oh Metta ..” ucap seseorang dari luar rumah.
Desti pun keluar rumah.
“Eh , kakak-kakak .. kak Mettanya ngga ada .” sahut Desti tersenyum.
“Kemana Des ?” tanya Brian penasaran.
“Entahlah . Tadi diajak temennya keluar. Mungkin ke markas mereka kak ,” jawab Desti menerka-nerka.
“Dimana ?” tanya Lucki ambil suara juga.
“Deket sungai kak .” jawab Desti singkat .

Mereka berempat pun menuju ke sungai kemarin .
*****

“Waduh , mendung Rama . Pulang yuk..” ajakku kemudian .
“Aku mau ngomong dulu sama kamu . Kemarin kan ngga jadi ,” tolak Rama padaku.
“Ngomong apa ?” tanyaku heran .
Tiba-tiba ..
“Hai nona biru ..”

Suara itu . Aku pun berpaling dan mencari asal suara itu . Dan suara itu adalah suara Brian , si cowok dari planet nyebelin itu. Kenapa ada dia sih ? Padahal aku berharap aku tak bertemu dia dan teman-temannya lagi.
“Mau apa sih kamu nih ngikutin aku terus ..” ucapku marah.
“Sapa juga yang ngikutin kamu. Kita kebetulan ketemu aja .” jawabnya asal.
“Siapa mereka Met ?” tanya Rama pengen tau.
“Kenalin . Aku Brian. Ini Rey , ini Lucki dan ini Chiko. Kita dari Jakarta..” ucap Brian mulai SKSD.
“Aku Rama ..” sahut Rama ramah. (kagak enak ya kedengerannya :D)
“Kita boleh gabung ngga ?” pinta Chiko berharap.
“Oh , silahkan silahkan ..” ucap Rama setuju .
Kenapa juga nih anak setuju ya ? Makin sebel aja apalagi aku cewek sendiri . Huu , pikirannya orang ntar gimana ini ? -_-
****

Hujan pun datang membawa tetesan air yang semakin lama semakin deras . Dengan refleks kita semua berlari pulang . Namun tetap saja , hujan membasahi seluruh tubuh. Sial , aku terpeleset jalanan yang licin .
“Aduuhh ..” ucapku lirih.
“Metta …” ucap Rama dan Brian bersamaan. Uppsss ,,
Dengan sigap Brian membantuku berdiri.
“Kamu gapapa kan ? bisa jalan ?” tanya Brian khawatir.

Aku hanya mengangguk ragu. Tiba-tiba satu pukulan mendarat pada muka Brian.
“Rama !” teriakku di tengah suara hujan .
“Apa-apaan sih loe !” ucap Rey marah.
Brian hanya meringis kesakitan .
“Aku ngga suka kamu deket-deket sama anak ini. Apalagi sok bantuin segala !” ucap Rama marah .
“Kenapa emangnya ?” tanyaku sedikit menaikkan intonasi .
“AKU SUKA KAMU METTA . AKU CEMBURU !” jawab Rama mengejutkanku.

Rey, Chiko, Lucki dan Brian berpandangan tak percaya.
“Hanya karena ini kamu nonjok Brian ? padahal dia cuma bantuin aku doang.” ucapku lantang .
“Aku suka kamu udah lama Met , udah lama . Kemarin aku mau ngungkapin perasaanku sama kamu , tapi berhubung ngga jadi makanya aku ngungkapin sekarang.” Perjelas Rama tulus.
“Tapi ngga harus nonjok gini kan ? Aku ngga suka yang namanya berantem. Ngerti ngga ! Lagian kita sahabatan , aku punya pacar . Masih ingat janji kita hah ? tak ada cinta diantara kita selain persahabatan. Ingat itu !” ucapku sambil meninggalkan mereka dengan tertatih.
Terlihat Chiko hendak menojok muka Rama tapi dicegah oleh Brian .
“Metta ngga suka namanya berantem,” ucap Brian tersenyum .
Niat Chiko pun diurungkan dan mereka berempat pergi meninggalkan Rama seorang diri.
*****

Belum ada Komentar untuk "RAHASIA CINTA TUHAN PART. I"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel