Recent Posts

SENJA TERAKHIR

Cerpen Karya Ilham Sullivan

Terkadang, aku merasa menjadi bukan diriku. Apalah artinya jika senyatanya hidup adalah topeng palsu di balik tubuh yang hilang akan sukmanya. Ketika nafas yang kuhirup hanyalah sebuah teori yang terasa tidak benar-benar terjadi. Dan bibir kakuku dipaksa untuk tersenyum palsu pada wajah-wajah baru.
“Namaku Adelia, kalian bisa memanggilku Adel. Dan aku senang bertemu kalian semua,” kataku memperkenalkan diri pada wajah-wajah asing di depanku.
Ya, aku siswi baru di sekolah. dan perlu kuberi tahu bahwa ini bukan pertama kalinya aku mengalami ini. Maksudku, berdiri kaku dengan senyum yang ku paksakan seperti ini. Ayahku seorang Pegawai Negeri yang entah berapa kali berpindah-pindah tugas. Imbasnya, aku harus berpindah-pindah sekolah mengikuti tempat dimana Ayahku bekerja.

Pak Wisnu mempersilahkanku untuk memilih tempat duduk yang ingin kududuki, dan seorang laki-laki dengan wajah dingin sukses menarik perhatianku untuk duduk di sebelahnya. Semua orang menatapku bingung, aku pun tak kalah bingungnya dengan apa yang salah.
“Pindah,” kata laki-laki di sebelahku.
“Kenapa?” tanyaku keheranan.
“Aku tidak mau siapa pun duduk di sebelahku,” jawabnya datar.
“Untungnya aku bukan siapa pun,” jawabku yang langsung membungkam mulutnya.
Dia menghela nafasnya perlahan, kemudian tanpa banyak bicara dia segera berdiri dan beranjak keluar kelas. Misterius.
-----

Entah berapa kali kulirik dentingan jam dinding itu, seolah bait novel yang sedari tadi kubaca tak ingin bersahabat dengan mataku. Waktu berjalan sangat lambat menurutku. Bahkan jam istirahat yang kuharapkan berlalu sangat cepat, nyatanya justru menertawai kebosananku.
“Suka baca novel ya?” sahut sebuah suara membuat wajahku menoleh reflek.

Kali ini laki-laki yang berbeda dengan teman sebangkuku. Dia tersenyum ramah, dan tanpa meminta izin dia menarik bangku di sebelahku dan mendudukinya.
Gavin,” katanya yang menyadari kebingunganku. “Namaku Gavin, aku duduk tiga meja di sebelah kananmu.”
“Oh,” balasku singkat. Aku kembali sibuk dengan novel.
“Kenapa lebih memilih duduk di kelas?” tanyanya lagi. “Tidak lapar kah?”
“Sama sekali tidak,” jawabku berbohong karena kenyataannya perutku sejak tadi menari-nari meminta diisi.
“Aku suka novelmu, caramu menceritakan benar-benar membuat pembacanya terbawa suasana,” kata Gavin yang membuatku tertegun sesaat.
“Novelku?” tanyaku takut salah dengar.

Gavin mengangguk. “Kamu Adelia, si penulis novel Senja kan?” katanya yang langsung membungkam mulutku. Dia tahu novelku. Novel yang menurutku langsung terbenam setelah ia terbit.
“Iya. Aku penulis novel Senja, novel yang gagal di pasaran,” kataku.
“Siapa bilang?” sangkalnya cepat. “Novelmu itu bagus. Kamu hanya kurang berani untuk mengirimkannya pada penerbit terkenal.”
“Jangan memuji, kalau pun aku mengirimkannya pada penerbit ternama, aku yakin pasti ditolak,” kataku pesimis.

Aku menyadari tatapan herannya dari sudut-sudut mataku, kemudian perhatiannya tertuju pada novel yang kubaca.
“Akhir dari novel ini bagaimana?” tanyanya.
“Tidak tau. Aku belum selesai membacanya,” jawabku tanpa menoleh.
“Kamu tidak bisa menebak?” tanyanya lagi.
“Tentu tidak.”
“Tentu tidak ya? Lalu bagaimana mungkin kamu tahu soal novelmu akan ditolak padahal kamu belum mengirimkannya?” tanya Gavin yang kali ini benar-benar membuatku tertegun.
Aku diam seribu bahasa, meski di sisi lain aku suka dengan caranya mengumpamakan sesuatu. Dan tanpa kusadari, bibirku yang pucat merekahkan senyumnya. Kali ini benar-benar tersenyum, bukan lagi senyuman palsu.
-----

Sore itu sebuah buku kecil dan sebatang pensil telah kumasukkan ke dalam tas kecilku. Rumah tidak selalu membuatku nyaman. Aku memutuskan untuk menghabiskan sisa hari ini di luar. Aku rindu dengan sesuatu.
Sungai kecil dengan jembatan kayu yang melintang di atasnya ternyata cukup untuk menarik perhatian kedua kakiku. Kuambil posisi menghadap ke pinggir jembatan. Dari sana aku bisa melihat senja. Suasana senyaman inilah yang aku rindukan. Segera kutulis apa pun yang melintas di pikiranku.

Aku tidak tahu entah berapa lama aku sibuk dengan tulisanku, sampai-sampai tidak menyadari kehadiran seorang laki-laki yang belum kukenal namanya. Ya, dia teman sebangku di sekolah. Orang misterius itu berdiri tepat di sebelahku.
“Kamu,” kataku menghentikan tulisanku sejenak.
“Renji,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari senja yang memerah. “Namaku Renji.”
“Oh, ngapain di sini?” tanyaku.
“Ini Kotaku. Aku bebas pergi kemana pun aku suka,” jawabnya, kemudian melirik tulisanku sekali. “Mengapa kamu begitu menyukai senja?”

Aku melirik kembali tulisanku yang belum selesai, dan kemudian menutupnya. “Senja memberiku pelukan nyaman saat aku menatapnya. Jika aku kesepian, aku kembali melihat senja.”
“Masa lalu ya?” kata Renji.
“Masa lalu?” ulangku tidak mengerti.
“Ya. Tulisanmu itu jelas jelas menggambarkan senja adalah sosok yang menggantikan seseorang dalam hidupmu. Seseorang yang bisa kutebak sangat berharga, di masa lalu,” katanya lagi.
Aku diam. Kata-kata Renji barusan benar-benar seperti anak panah yang menancap tepat pada sasaran. Dia pintar membaca keadaan. Aku akui itu. Renji meraih kamera yang dari tadi tergantung di lehernya, kemudian mengambil beberapa sudut-sudut pemandangan yang menarik perhatiannya.
“Soal tadi siang, kenapa kamu memintaku pindah?” tanyaku begitu keingintahuan itu muncul.
“Karena aku orang nomer satu di sekolah,” jawabnya tanpa berhenti memotret. Dari sudut bibirnya, aku bisa melihat bahwa ia tersenyum. Tepat setelah dia selesai bicara.
-----

Kuhempaskan pensil yang sedari tadi melekat di jemariku, seakan jemariku tak lagi akrab dengannya. Kutatap rintikan hujan di jendela kamarku. Satu-satunya yang patut aku salahkan adalah hujan.

Aku benci hujan. Imajinasiku seakan ikut buyar karena derasnya. Dan bukan cuma itu, irama rintikannya seolah mencoba membuka kembali kenangan lama yang telah kusimpan di balik debu-debu masa lalu.
“Kenapa? Kamu baik-baik aja?” tanya Gavin yang memperhatikanku. Dia meneguk teh hangat yang sengaja kusajikan karena menemaniku mengerjakan tugas cerpen yang diberikan Pak Bowo.
“Aku benci hujan,” kataku pelan.
“Kenapa?”
“Hujan membuka kembali memori yang sejak lama kusembunyikan darinya,” jawabku yang masih menatap rintikan hujan.
Gavin menarik sebuah bangku, dan mendudukinya tepat di sebelahku. “Jadi, mau cerita sesuatu?”
Aku menimbang-nimbang sebentar, dan akhirnya kuputuskan untuk bercerita. Ini tentang seseorang. Aku pertama kali mengenalnya saat hujan yang turun di akhir Desember. Dia datang dengan menyelamatkanku dari derasnya hujan. Dia baik, sangat baik karena semua perkataan indahnya mampu membuatku tetap terjaga dari kantukku. Bahkan pundaknya selalu kumiliki jika aku lelah.
Aku dan dia telah menghabiskan waktu yang cukup lama menurutku. Orang tuaku pun menyukai sikapnya yang santun. Semua orang mengatakan aku wanita yang beruntung. Tapi ternyata tidak. Dia pergi dengan memilih orang lain tepat di hadapanku. Aku tidak sendiri saat itu, hujan lagi-lagi menemaniku. Dan sejak saat itulah aku mulai membenci hujan.

Gavin meneguk kembali tehnya, kemudian terdiam seolah merasakan kesedihanku. Aku pun tak ingin berkata-kata. Dia memandang keluar jendela untuk beberapa saat, dan bibir merahnya kemudian tersenyum.
“Kamu tau tidak, bukan salah hujan jika semua itu terjadi,” kata Gavin. “Dia cuma kiriman Tuhan yang menjadi saksi atas kepergian ‘orang yang salah’ itu. Tuhan tidak ingin kamu bersama dengan orang yang salah, itu sebabnya dia mengirimkan hujan sebagai saksi yang selalu mengingatkanmu, agar suatu saat kamu tidak kembali bersama orang itu.”
“Menurutmu begitu?” kataku yang terketuk oleh kata-kata Gavin barusan.

Dia mengangguk yakin, kemudian berdiri dari tempat duduknya, membuka jendela kamarku, dan melompat keluar menyerbu derasnya hujan. Aku hampir saja berteriak namun wajahnya membungkam mulutku. Gavin tampak menyukai hujan. Dia tidak takut sama sekali. Direntangkannya kedua tangannya sementara wajahnya mengadah ke atas, tersenyum. Aku diam, takjub.
“Lihat kan? Hujan tidak seburuk yang kamu pikir. Buktinya, dia membelaiku dengan lembut,” katanya setengah berteriak mengalahkan gemuruhnya suara hujan.
Aku menatap matanya dalam-dalam. Mata yang teduh itu menggerakkan bibirku untuk kembali tersenyum.
“Dengar Adel, aku tau ini mungkin terlihat konyol. Tapi aku yakinkan satu hal, bahwa aku mampu menghapus kenangan pahit itu. Hanya saja aku tidak bisa melakukannya sendirian, aku butuh izin untuk masuk ke dalam hatimu, menuntunmu keluar dari bayang bayang masa lalu,” katanya lagi yang masih berteriak.
Aku terdiam membeku di tempatku berdiri, telingaku terasa berdenging menerima kata-kata indah Gavin barusan. Bahkan jantungku ikut memberontak dari tempatnya.
“Aku tidak pernah berpikir bahwa kamu bisa melakukan hal segila ini,” kataku.
Gavin tersenyum. “Adel, cinta itu ajaib.”
-----

Aku menatap kertas yang tertempel di pintu kelas, dan seketika senyum pun tak kuasa kutahan. Cerpen yang kuangkat tentang Gavin ternyata mendapat nilai tertinggi. Dia bahkan sampai malu karenanya. Kucari nama Gavin yang ternyata berada di urutan tiga. Aku baru tahu kalau Gavin menyukai dunia tulis-menulis. Dan oh ya, aku masih mencari nama seseorang, dan kutemui di urutan terbawah. Renji.
“Cerpenmu bagus,” kata sebuah suara yang tidak asing di telingaku.

Aku menoleh dan mendapati Renji berdiri di belakangku. Segera saja kutarik jari telunjukku yang menempel tepat di atas namanya.
“Jangan salah tingkah begitu. Aku udah biasa dapet nilai paling jelek,” katanya tanpa beban.
“Bukannya kamu bilang kalau kamu orang nomer satu di sekolah? Lantas kenapa nilaimu malah yang terbawah?” tanyaku heran.
“Ya. Aku memang orang nomer satu. Tapi bukan berarti aku yang paling pintar soal pelajaran. Asal kamu tau aja, aku payah dalam semua pelajaran,” kata Renji.
“Lalu, kamu nomer satu dalam soal apa?”
“Nakal. Aku paling berandalan di sekolah. Tidak ada pelajaran atau hal yang aku sukai selain menghabiskan waktu bersama kameraku. Bukan tanpa alasan orang-orang memanggilku preman fotografer,” jawabnya sambil tertawa renyah.

Aku ikut tertawa, dan sedetik kemudian tawaku lenyap ketika seseorang yang sangat akrab di benakku muncul dari belakang Renji. Dia tersenyum padaku.
“Adel,” sapanya, membuat Renji tampak kaget dengan orang yang tiba-tiba muncul itu.
Adam?” kataku heran. “Kamu . . .”
“Aku ke sini untuk kamu, Del,” katanya memotong ucapanku. “Aku mau minta maaf.”

Renji menatap aku dan Adam bergantian, dan seperti sudah mengerti, dia segera masuk ke dalam kelas. Aku baru saja akan mengikutinya, namun tangan Adam menahan lenganku.
“Jangan pergi. Kita punya banyak hal yang harus dibicarakan,” katanya menghentikan langkahku.
Aku membalikkan tubuhku dan menatap wajah itu. Wajah yang dulu mengukir luka di atas kebahagiaan. Wajah yang menjadi hujan di atas indahnya pelangi.
“Nggak ada yang perlu dibahas, Dam,” kataku perlahan. “Kamu udah nentuin pilihan kamu, dan aku pergi dengan coretan luka yang kamu goreskan.”
“Aku nyesel, Del. Aku ingin kamu dan aku kembali menjadi ‘kita’. Kamu mau kan? Kamu mau kembali menyusun mimpi-mimpi kita yang pernah hancur karena keegoisanku?” katanya.

Aku menatap mata yang tidak pernah berubah itu. Andai Adam tidak merusak segalanya, andai tidak pernah ada orang lain di antara kita, aku pasti sudah memeluk tubuh tegap di hadapanku ini. Dan entah keajaiban apa yang membuat hujan turun saat itu. Namun kali ini aku bersyukur karenanya, aku ingat bahwa hujan adalah saksi kepergian Adam demi orang lain. Aku sadar bahwa hujan menyimpan makna di balik derasnya. Aku tidak akan kembali. Tidak lagi.
“Del?” suara Adam menyadarkanku. Dia menunggu jawaban. Dan aku telah membuat jawaban.
“Tahukah kamu betapa sulitnya menemukan kembali hari-hariku yang selama ini terkunci di balik bayang-bayangmu? Dan aku menemukannya. Lalu, apa yang membuatmu ingin kembali merusak hari-hariku dengan hadirmu?” kataku yang membuatnya tertegun.
“Adel . . .”
“Udah, Dam. Kita udah lalui banyak hal. Kita udah buat keputusan kita masing-masing, aku berterima kasih telah mengenalmu. Semua yang kita lalui, adalah pelajaran menuju kedewasaan bagi kita. Sekarang aku dan kamu bukan lagi ‘kita’. Ingat Dam, ada hati yang harus kamu jaga di sana,” kataku lagi.
Aku menundukkan wajahku, menyembunyikan air mata yang seharusnya tak kujatuhkan di hadapannya. Dia tidak berhak untuk melihat air mata yang jatuh itu.
“Adel, kamu . . .”
“Hey orang bodoh yang tidak tau sopan-santun!” suara Renji membuat wajahku terangkat.

Renji berjalan menghampiriku, dia menyadari air mata yang membendung kedua mataku namun sikapnya seolah tidak melihat apa pun. Dia malah melepaskan tangan Adam yang sedari tadi menahan lenganku.
“Dengar ya sialan. Aku tidak tau siapa kau dan aku tidak peduli soal itu. Adel telah menjawab pertanyaanmu dan telah membuat keputusan. Kalau kau masih memaksa, itu artinya kau membuat ulah, dan ingat,” kata Renji menghentikan ucapannya, dia lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Adam, keduanya saling menatap tak mau kalah. “Ini sekolahku, sekarang pergi dan jangan tunjukkan wajah sialanmu itu di sini atau kutendang bokongmu sampai keluar sekolah!”
Aku tidak bisa membohongi diriku bahwa aku merasa takut. Aku takut sesuatu terjadi pada mereka. Adam tidak pintar dalam berkelahi, sedangkan Renji jelas-jelas diakui keberandalannya. Dan sekali lagi keajaiban terjadi, Adam memilih untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tubuhnya menerobos derasnya hujan, dan sesaat kemudian hilang di balik pagar sekolah.
“Kamu telah membuat keputusan yang tepat,” kata Renji sambil menepuk pundakku, kemudian berjalan meninggalkanku yang masih diam menatap hujan, hujan yang tidak lagi kubenci.
-----

29 Desember, pukul 16:50
Akhir Desember di musim hujan, aku, Gavin, dan Renji kembali ke tempat dimana aku bisa melihat senja. Aku berdiri di antara Gavin dan Renji. Kami sama-sama menunggu senja yang tampak malu menunjukkan pesonanya. Aku tetap menunggu, karena aku yakin dia akan muncul.
"Kamu tau nggak, arti namaku?" tanya Gavin memecah kesunyian.
"Tidak. Memang apa?" tanyaku ingin tahu.
"Penjaga," jawabnya. "Dan rasanya tidak akan berguna jika aku tidak mempunyai sesuatu yang berharga untuk kujaga."

Aku terdiam, kulirik Renji yang asik memotret pemandangan dengan kameranya, seolah tidak mendengar apa pun. Jantungku mulai berdegup.
"Maukah kamu menjadi sesuatu yang berharga itu?" tanya Gavin akhirnya.
Aku mendekap mulutku. Akhirnya yang kubayangkan terjadi. Dan aku sekali lagi dituntut untuk membuat keputusan.
"Kamu tau, Vin. Aku nggak bisa . . ." jawabku yang langsung membuat rona wajahnya berubah. Bahkan Renji sampai berhenti memotret. "Aku nggak bisa nolak permintaan itu," lanjutku.
Gavin tersenyum. Aku telah memilih senja yang baru. Segera kutarik pikiranku dulu bahwa tak akan kutemukan bahagiaku di Kota Solo. Senyatanya, Gavin menjadi 'senja terakhirku'. Dan aku tidak takut untuk mencintai, karena jika aku memikirkan resiko yang akan terjadi, maka artinya aku tidak tulus. Inilah secercah harapan baru yang akan kutulis di halaman awal kisahku.

Belum ada Komentar untuk "SENJA TERAKHIR"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel